Hei, penggalau dunia maya. Kenapa
kamu begitu menikmati kesedihanmu dan melarikan segalanya dalam tulisan?. Aku
telah mengutip semua kegalauanmu lewat tulisan yang kau publikasikan itu.
Tidakkah dirimu malu dengan apa yang telah kamu lakukan?. Apa dengan melarikan
diri seperti itu membuatmu bahagia? membuatmu tenang? atau hanya agar manusia
yang lain mengerti kesedihan yang sedang melanda dirimu?
**
Segelintir kalimat yang kau tata
yang menurutmu rapih itu. Seharusnya kau pikir kembali kalimat - kalimat yang
harus kau lempar di media yang seperti samudra ini. Kau hina, kau caci orang
yang tidak menyukaimu. Kau lontarkan kata - kata yang tak sepantasnya kau
keluarkan dari tulisanmu. Apa kau pikir orang menyenanginya???
**
Merasa hebatkah dirimu telah menceritakan
dirimu disana? Kau tahu, tulisan yang kau lebih - lebihkan, kesedihan yang
selalu kau cari agar dapat kau "post" kembali di dunia sempit tetapi
luas ini. Membuatku merasa kasihan kepadamu. Karena dengan kau bercerita
semuanya, membuat dirimu sendiri dipermalukan oleh tanganmu. Hanya itukah yang
bisa kau lakukan? Tak bisa kau lebih mendewasakan diri menghadapi masalahmu??
**
Aku terharu membacanya, sedikit
tangis yang kau gelintirkan di dalam tulisan itu. Tidak ubahnya bayi yang
sedang merintih menunggu asi. Detik ini, aku membacanya kembali. Lucu
kelihatannya, tapi agak geli membayangkannya. Aahhhh, diimunisasi dengan
sedikit lelucon mungkin agak berirama membacanya.
**
Cewek
berambut panjang yang selalu mengepang keatas rambutnya, sedang asik bersantai
di tengah panasnya cuaca hari ini. Sesekali cewek itu menyeduh teh yang
kelihatannya mulai dingin melawan panasnya matahari. Berkutat dengan laptop
yang ada dihadapannya. Mungkin sedang mengisahkan kegalauan yang menimpanya
hari ini atau yang telah ia lewati kemarin. Rasanya aku ingin bergabung
dengannya, sekedar ingin menguping langsung cerita dari dia. Tidak selalu
mengetahuinya lewat facebook ataupun twitter. Jujur, karena terlalu seringnya
dia berkisah tentang masalah , masalah dan masalah, sepertinya hidup cewek itu
selalu didatangi oleh keluarga masalah.
**
Di
dunmai sih nicknamenya Alex, lengkapnya Alexis bla bla bla.. dia tetangga
baruku dan aku hanya bertegur sapa dengannya sekali saja. Waktu mama
mengunjungi rumahnya yang tepat didepan rumahku. Maklum di perumahan ini,
jalannya agak seperti gang - gang kecil di perkampungan. Jadi, jika ada
keluarga baru, entah itu disamping rumahku, berjarak dua rumah dari rumahku,
hingga rumah diujung kompleks depan mama selalu bertandang ke tetangga barunya.
Dan sekarang giliran keluarga Alex yang mama kunjungi. Mama memang orang yang
selalu riang, apapun yang menurutnya baik selalu dilakukan perempuan yang
hampir berusia lima puluh tahun ini. Mama mengajakku ke tempat Alex, karena
sama - sama ada anak gadis tuturnya. Karena aku nggak bisa membantah perkataan
mama, jadilah aku ikut tante - tante girang ini. Sampai di depan rumah Alex,
mama Alex sangat menerima kehadiran dan niat baik mama, kami lebih tepatnya.
Mama Alex sangat ramah ternyata, persis dengan mama, dari pertemuan pertama mereka,
mereka langsung merasa akrab dan bisa dijadikan tempat kuliner mama yang baru.
Hehehee
Alex
yang saat itu sedang berada dikamarnya, dipanggil dan berkenalan denganku.
Berbincang - bincang menanyakan hal - hal yang menurutku anak kecil banget.
Nggak hanya pindah rumah, Alex juga pindah sekolah. Dan yang lebih mengagetkan,
dia pindah sekolah di tempatku. Iya, sejak itu dia menjadi tetangga sekaligus teman
sekolahku. Tapi dari perkenalan pertama dengannya aku kurang sedikit merasa
klop, Alex yang sedikit pendiam sulit rasanya untuk bersosialisasi dengan
lingkungan yang baru, termasuk denganku. Di sekolah antara aku dan Alex nggak
pernah mengobrol kembali. Tentang bagaimana aku mendapatkan Facebook dan
Twitter Alex, iseng mencari - cari namanya di kolom search, beberapa menit
kemudian aku mendapatkan keduanya. Berniat untuk mulai mengenalnya lewat dunia maya, tetapi gagal! chat yang
terkadang aku kirim hanya dibalas singkat saja. Itu artinya dia nggak terlalu
in come denganku.
**
.."mengapa
kita yang baru memasuki lingkaran kehidupan, sulit diterima di lingkaran yang
baru itu?"..
Itu adalah kutipan status yang pernah
nangkring di halaman beranda facebookku. Alex, kenapa kamu menulis seperti itu?
apa kau merasa dirimu tidak diterima di dunia barumu ini? padahal aku ingin
sekali mengenalmu, menjadi temanmu dirumah dan disekolah. Syukur - syukur
menjadi sahabat barumu. Belum cukup berhenti disitu, masih banyak catatan -
catatan pendek Alex yang melewati papan berandaku, entah di facebook maupun di
twitter. Ingin rasanya aku mengomentari catatan harian publik itu. Tapi, kuurangkan
niatku, takut tercuekkan kembali oleh si cuek cewek misterius yang satu ini.
Tiga
bulan sudah Alex menjadi warga kompleks perumahanku. Tetapi hanya mama, kakak,
dan ayahnya yang rajin tertawa ketimbang Alex yang kayaknya selalu menekuk
wajahnya. Masalah apa yang sedang dihadapinya, entahlah hanya Alex dan tuhannya
yang tahu. Keluarga Alex beragama hindu, dia pindahan dari pulau Dewata yang
dibanjiri bule itu. Nggak tahu apa yang mengirim keluarga Alex, hingga akhirnya
terdampar di tempat panas nan sesak ini.
**
Siang
ini akan kuberanikan melangkahkan kakiku ke tempat dia bersantai sekarang. Alex
yang sedang berada di taman perumahan depan memanfaatkan gratisan wifi disana.
Jantungku berdetak kencang, takut tercuekkan kembali oleh cueknya si Alex..
"Hai
Lex, boleh gabungan?" sapaku sok tenang.
"Iya
nggak apa - apa, silahkan!". Jawabnya sambil tersenyum.
"Sendirian
aja nih Lex? kok betah?"..
"Iya,
habisnya nggak ada yang mau diajakin. Kakakku nggak mungkin banget"..
"Aku
sering disini, disini nyaman. Kalau kamu butuh temen, kamu bisa ajakin aku
kalau kamu mau".. Percikku sedikit canggung.
"ohh,
nggak apa - apa nih? nanti kamu sibuk lagi"..
"aku
nggak pernah sibuk, paling - paling juga gara - gara mama aku sibuknya. Itupun
cuma disuruh nyegerin bunga -
bunganya"..
"Iyaudah,
kapan - kapan ya"..
"Okedeh..."..
Kami
mengobrol hingga sore di pelataran taman itu. Nggak nyangka, setelah sekian
lama nggak berkomunikasi dengan Alex. Alex yang dulu pernah aku tahu walaupun
hanya beberapa jam. Sekarang dia seperti orang asing kembali, banyak bicara
juga ternyata, jadi kami merasa cocok satu sama lain dalam hal bergosip. Hehehee
Alex
orang yang nyaman diajak jika diajak ngobrol seperti tadi. Dan akhirnya, sejak
itu kami semakin dekat, juga disekolah. Banyak teman - temanku yang menanyakan
bagaimana bisa aku dekat dengan Alex, sedangkan yang mereka tahu, Alex adalah
sosok yang sangat pendiam sampai - sampai mengalahkan batu sekalipun. Alex
selain cantik dan pintar, ternyata dia juga baik. Hanya saja, Alex belum siap
mengenal yang lainnya. Mungkin! karena akupun juga belum mengenal Alex begitu
lama.
Sepulang
sekolah, kami berdua memutuskan untuk ke salah satu mall yang lokasinya nggak
seberapa jauh dari tempat kami. Nggak tahu kenapa, Alex selalu takut pulang
telat atau terlalu sore. Dia bilangnya sih, karena harus ada kerjaan yang nggak
bisa ditinggal. Aku manut aja sama kata - katanya. Paling - paling dia harus update
status galaunya menjadi status galau yang terbaru. Bisa jadi!!
Di
mall, kami hanya menyempatkan untuk membeli aksesoris seperti kalung etnik yang
talinya sampai sejajar dengan perut. Alex membeli ikat rambut, maklumlah
sepertinya dia pengoleksi ikat rambut. Aku perhatikan, tiap hari Alex selalu
bergonta - ganti model ikat rambutnya. Dan tepat saja, yang dituju pertama kali
adalah rak ikat rambut. Setelah beberapa menit di counter pernak pernik wanita
ini, kami segera turun dan pulang. Alex kayaknya nggak pernah tenang kalau aku
ajak keluar, pulang sekolah apalagi.
**
Dikamar..
Badanku
terasa lelah sekali, padahal tadi siang hanya sebentar cuci matanya di mall.
Setelah kuhempaskan badanku yang mungil ini di sponge empuk dekat jendela
kamar, Alex melintasi pikiranku. Kusempatkan sebentar untuk mengecek timeline
dan beranda facebook. benar saja, Alex sudah memperbarui statusnya, dan lagi -
lagi galau yang dia rasakan. Sebenernya apa sih yang Alex hadapi dari dulu
sampai sekarang? kenapa dia nggak pernah ingin berbagi cerita tentang
kegalauannya itu padaku? padahal kita berteman sudah cukup lama, cukup untuk
mempercayaiku menjadi teman sekaligus tempat curhatnya. Tetapi, mengapa Alex
masih misterius tentang kegalauan itu? dan lebih percaya kepada sosial media
ini dibanding diriku yang nyata?. Yaa, mungkin facebook dan twitter telah lebih
lama menjadi temannya dibanding diriku yang hanya beberapa bulan ini menjadi
kenalannya. Iya, mungkin itu jawabannya. Aku hanya bisa mengerutkan dahiku saat
Alex kambali mengeluh di dunianya itu.
Aku
nggak pernah bertanya, mengapa dia selalu mengeluh di facebook? kenapa twit -
twitnya selalu berisi kesedihan?. Aku merasa sungkan untuk menanyakan hal itu
kepadanya. Alex juga tidak pernah memasuki duniaku lebih dalam, aku dan Alex
hanya berteman biasa dan saling mengisi jika bertemu saja. Ku tutup jendela
browser ku, dan mulai kumatikan laptopku. Karena mataku yang telah memberi
isyarat untuk istirahat..
**
Keesokan harinya..
Kriiiinggggg---kriinggggg,
alarm wekerku yang kutaruh didekat telinga semalam. Merintih hebat sambil
menunjukkan pukul 04.00 wib. Gilaaa, jam
segini aku sudah harus bangun dan parahnya dibangunkan oleh jam weker yang
berisik ini.
Hari
ini aku harus bergegas kesekolah karena ada acara pentas seni di sekolahku. Dan
karena harus nemenin mama ke pasar dulu untuk belanja kebutuhan depot yang
sudah sold out dari list, jadi aku membangunkan diri dari dunia mimpi lebih
awal dari biasanya. Sebelumnya sih biasanya mama belanja di supermarket karena
tempatnya juga lebih dekat dari depot, namun karena kebutuhan yang katanya lebih
banyak, jadi mama mutusin untuk mencari bahannya di pasar. Aku sedikit protes
ke mama, sungguh jujur aku nggak betah dengan suasana pasar yang sudah nggak
terawat dan sedikit agak mengotori udara yang pagi - pagi harusnya sejuk dan
segar menjadi agak sedikit usang karena nggak teraturnya kondisi pasar. Tapi,
apa boleh buat ini adalah keputusan mama yang nggak bisa diganggu gugat.
06.13 wib......
Untung
saja sekolahku hanya berjarak beberapa kilo dari rumah. Jadi sepulang dari
pasar tadi aku nggak begitu khawatir takut telat sampai disekolah nanti. Hari
ini, aku harus rapat OSIS terlebih dulu jadi berangkatnya sedikit maju. Aku
sudah mengabari Alex kalau hari ini aku berangkat lebih cepat dan nggak bisa
berangkat bareng, untung dia mau mengerti. Aku gas motorku secepat mungkin agar
sesampainya disekolah aku masih bisa leyeh - leyeh di base camp.
Hari
ini semua pelajaran free, dan begitu senangnya otakku karena terbebas dari
pelajaran - pelajaran yang melelahkan itu. Tapi, kali ini aku akan mengeluarkan
tenagaku dua kali lipat, untuk acara yang diadakan sekolahku hari ini dan untuk
dua hari kedepan. Bayangkan, meskipun terbebas dari tugas belajar tapi, aku
akan memasuki fase dimana otot – ototku harus bekerja keras. Ya, setidaknya aku
akan menyiapkan fisikku agar nggak jatuh sakit setelah kelelahan nanti. Hari
ini, aku nggak bertemu Alex sama sekali disekolah. Sebegitu sibukkah diriku
sampai - sampai bertemu si misterius yang satu itu saja belum sempat. Sedang
apa cewek penggalau itu? Apa sedang mengetik kata demi kata yang akhirnya
menjadi kalimat yang mengharukan, dan nggak lupa membagikannya didunia maya
yang akhirnya melewati halaman rumah mayaku juga. Semoga saja nggak, pikirku.
**
2 hari kemudian..
Begitu
lelah ternyata bermain – main dengan tugas seperti kemarin. Badanku lebam –
lebam, encok semua rasanya. Sekarang giliran mama yang harus memanjakan anak
satu – satunya yang cantik ini. Aku dan mama yang hanya hidup berdua setelah
kepergian papa dua tahun yang lalu. Dan selama dua tahun ini kami harus
menjalani kehidupan tanpa seorang imam, tanpa sosok laki – laki dewasa dirumah
kami. Dan aku anak satu – satunya
dirumah ini harus berpikir keras bagaimana besok aku harus membuat mama dan
papaku disana bangga dengan diriku yang biasa – biasa ini. Nggak ada yang
namanya main – main, saat ini semuanya harus serba hati – hati dalam melangkah.
Setelah
selesai mama memanjakan badanku yang encok lagi lebam ini, selagi membaringkan
badan di sponge yang empuk sesekali berkutat dengan laptop. Log in di facebook
dan twitter, karena memang hanya itu social media yang aku punya. Ketebaklah
sudah, nama yang nggak asing diingatanku sedang asyik bergumam di beranda
facebook. Oh tuhan, apalagi yang sedang dia ketik di kotak status itu.
Sepertinya lama sekali aku belum bertemu anak ini, kangen rasanya bercanda
sepulang sekolah. Aku bergegas mengetik pesan diponselku.
“Malem,
hai apa kabar?”
Segera ku pencet send, yang
kutujukan pada kontak yang bernama “Eleksis”. Beberapa menit kemudian aku
mendapat balasan dari kontak tadi.
“Malem
2, baik – baik dong. Loe gimana badannya setelah tiga hari ini?”.
Send “Badanku kayak ditimpuk beban sepuluh ton. Hehe *bercanda”.
“Ah,
lebay banget sih loe. Besok masuk nggak?”.
Send “Iyalah, kalo gue bolos. Loe pasti kangen berat liat mukak gue :D “.
“Okedeh
see u soon. Ihh amit – amit deh :P “.
Send “Hihihiii. Okeee. (y) “.
Segelintir smsku dengan cewek
penggalau tadi. Seperti memiliki kepribadian ganda, berkamulflase dengan
dirinya sendiri dan dirinya yang sedang berada di dalam cermin. Aneh sekali.
**
Pelataran sekolah..
Sesampainya
disekolah, aku dan Alex kembali bergumam dengan cerita – cerita kami setelah
tiga hari ini. Bagiku saat ini Alex adalah teman yang asyik dan cerewet, nggak
seperti yang dikenal anak – anak yang lain bahwa Alex adalah Queen of Silent. Tapi,
masih dengan keanehannya, aku belum mengenal Alex seutuhnya karena satu hal,
kegalauan yang menimpa Alex setiap harinya itu yang nggak pernah aku tahu
penyebabnya. Sepulang sekolah nanti,
Alex ingin membeli kado ultah mamanya di mall biasa yang sering kami kunjungi,
dan aku menggangguk – ngangguk saja. Bel berkumandang, aku dan Alex langsung
melangkahkan kaki di mall favorit kami. Kuparkir motor bebekku di tempat parkir
yang agak pengap di lorong bawah gedung. Langsung aku dan Alex memasuki mall tersebut
dengan seragam yang masih menempel di badan kami. Bangga rasanya anak sekolah
masuk mall dengan bet yang mencantumkan
nama sekolahnya “Bina Nusantara” atau
yang sering disebut Binus ini. Alex mencari kado yang nggak aku mengerti, anak
ini memang sulit ditebak deh. Ternyata setelah mengelilingi semua blok di
tempat ini akhirnya Alex menemukan yang dia cari, yaitu tempat pemesanan
souvenir. Entahlah, apa yang sedang dia pikirkan kenapa memilih tempat ini?! Alex mulai memilih
souvenir yang cocok untuk diberikan ke mamanya, sebenernya sih lebih kepada
handmade gitu. Ohh, ternyata si Alex seleranya nggak pasaran, dia memiliki cara
tersendiri untuk memberi surprise ke mama tercintanya. Hhmptt, ini jawabannya!!
Wajah
– wajah keluarga sederhana yang dia miliki, terpampang rapih dan unik di kanvas
yang berukuran 3 x 3 meter. Ada kak Mika, cowok 20 tahun yang lagi nyelesein
kuliahnya di Fakultas Sastra UI. Ada tante Mirna yang manis dan baik hati, suka
anak – anak yang periang seperti aku ini. Heheee dan ada Om Ketut, papa Alex. Terkahir,
si Cewek penggalau dunmai lagi
nyengir menunjukkan gigi gingsulnya yang terlihat manis, yang masih berumur
sekitar tiga belas tahun di lukisan itu. Mereka semua terlihat sumringah, merupakan
keluarga bahagia dan masih lengkap tentunya. Itulah yang akan diberikan Alex
kepada mamanya, yang akan mamasuki usia empat puluh dua tahun. Semoga saja
mamanya suka melihat kado dari Alex.
**
Setelah perayaan ulang tahun tante
Mirna, Alex langsung meberi kabar melalui pesan pendek.
“Thx
ya girl, mama gue suka banget sama kado yang kemaren :D”.
“Ikut
seneng dengernya. Sampein salamku buat keluarga loe ya. Happy birthday tante
Mirna :D
“.
“Thx
ya rin, loe sahabat gue yang paling baik”.
Sahabat?
What sahabat dia bilang? Ternyata selama ini cewek penggalau itu nganggep aku
sahabatnya? Tapi, kenapa masih misterius untukku? Apa yang selama ini dia katakan
“sedih” itu, nggak pernah sekalipun aku menemukan kesedihan dimatanya. Apa ini,
bentuk dia tidak ingin membuat orang lain merasakan sedihnya? Tapi, jika memang
dia menganggapku sebagai sahabatnya. Pasti ada cerita tentang apa yang dia rasakan
selama ini termasuk kesedihan di dunia maya itu.
Ujian
semester kali ini aku memutuskan untuk belajar bersama Alex. Maklumlah, aku
yang nggak diunggulkan disekolah mencari orang yang menurutku bisa mmbawa
nilaiku lebih baik dibandingkan dengan nilai semester sebelumnya. Alex cewek
yang jenius, pintar bicara didepan umum tapi tertutup soal kepribadian dan
lingkungannya termasuk didalam kelas
dengan teman – temannya. Kali ini aku yang berkunjung ke rumah dia, sekaligus
mencari – cari cemilan gratis yang biasa tante Mirna suguhkan kepadaku. Aku
yang tetangganya terlalu sering berkunjung ketempat ini, sudah kenal betul
dengan cemilan favoritku, yaitu mente bawang buatan langsung dari tangan tante
Mirna.
**
Seminggu kemudian..
Aku
merenungkan kata – kata Alex seminggu terakhir ini. Saat ujian semester ganjil
berakhir, Alex sekeluarga memutuskan berlibur ke Bali. Sedang aku, sibuk
membantu mama di depot yang semakin hari semakin banyak pelanggannya. Katanya sahabat?
Kok selama berlibur Alex nggak ngabarin aku sema sekali. Berlibur katanya, liburan
sampai – sampai hapenya di nonaktifkan, takut terganggu masa berliburnya
mungkin. Aku selalu ingin menghubunginya, tapi setelah ku pencet tombol “panggil”,
selalu diluar jangkauan dan tulalit. Ada apa dengan mereka, terlalu bersenang –
senangkah??
Dua
minggu terakhir liburan. Aku dan Alex belum berkomunikasi sekalipun, aku yang
katanya sahabatnya semakin was – was menunggu kabar dari Alex. Tapi, selama dua
minggu terakhir ini, dia sama sekali nggak mencoba menghubungiku. Aneh, betah
banget liburan sampai dua minggu disana. Nggak ingin pulang kerumah baru yang
selama ini ditempatin? Mungkin keluarga itu masih ingin menikmati tempat mereka
yang dulu. Maklumlah, setelah setengah tahun terakhir baru kali ini mereka sempatkan
kembali ke Bali.
**
Jam
weker adalah sahabatku yang paling dekat saat ini, kembali membangunkanku dari
mimpi – mimpi tadi yang menurutku indah. Tapi sayang, weker ini nggak mengerti
aku masih ingin melanjutkan mimpi indahku. Kompakan bersama datangnya mama,
yang menarik selimutku dari ujung kaki. Dengan sedikit kesal aku bertanya
kenapa mama membangunkanku seperti biasanya? Padahal sekarang jatah liburan
untuk depot. Mama langsung menyaut dengan nada cemprengnya “Alex kritis,
sekarang di RSCM. Mama mau kesana, kalau kamu pengen ikut mandi cepetan”. Hah? Apa? Alex kritis??? Kritis karena apa? Kok
tiba – tiba……….. sebelum aku melanjutkan pertanyaan itu mama kembali bergumam “ayoo
cepetan, atau mama tinggal!”. Segera aku memasuki kamar mandi, mandiku yang
biasanya setengah jam lebih, menjadi lebih cepat dari mandiku jika telat
kesekolah. Mandi bebek, hanya berselang beberapa menit. Entahlah, yang penting
aku segera bertemu dengan sahabat misteriusku itu.
**
Paviliun kemuning 9..
Kulihat
sesosok tubuh seksi berparas cantik dan manis, sedang terbaring lemah. Aku yang
tidak memberanikan diri masuk hanya bertanya – tanya kenapa menjadi seperti
ini? Apa yang telah terjadi kepada cewek dikamar itu? Ada kak Mika yang sedang
duduk diluar kamar Alex dirawat, dengan tubuhnya yang sudah lemah, dan aku
memberanikan diri untuk menanyakan kejelasan semua ini. Apa yang sebenarnya
terjadi dengan Alex??
Sejam kemudian..
Dari
penjelasan kak Mika tadi, aku mengerti semua kesedihan yang Alex rasakan selama
ini, yang Alex keluhkan di social media miliknya itu. Aku mengerti kenapa selama
ini hanya social media yang menjadi tempat keluh kesah gadis itu. Dia tidak
ingin membebani orang – orang yang dia sayang, orang – orang yang
menyayanginya. Dia hanya ingin terlihat bahagia didepan semua orang, meskipun
aku tahu sebenarnya selama ini di hati kecilnya, dia sedang merasakan kesedihan
yang begitu mendalam. Sejak berumur tiga tahun Alex menderita kanker yang
membuat ginjalnya tidak berfungsi dengan baik. Alex mendapatkan pendonor saat
masih berusia tiga belas tahun, tetapi dia menolaknya. Baginya penyakit yang
menyerangnya saat ini, adalah kehendak tuhan. Alex tidak pernah mengeluh kepada
orang tuanya, keluarga besarnya, dan termasuk kepada sahabat barunya, yaitu
aku. Hanya social medialah yang menjadi sasaran tangisnya setiap hari. Saat ini,
penyakit itu semakin membuat Alex lemah, hingga saat ini kabel - kabel yang
melilit tubuhnya yang tidak beraturan namun Alex hanya terdiam sambil
memejamkan matanya. Aku dapat merasakan bagaimana sulitnya menjadi dia yang
seperti itu, menjadi kak Mika yang harus tabah melihat adik tersayangnya itu
terbaring lemah di rumah sakit, tante Mirna yang sedari pagi berdoa tanpa
henti, dan Om Ketut yang bersikap seolah – olah tabah mengahadapinya namun
masih terlihat jelas dimatanya bahwa beliau tidak ingin ini terjadi apalagi lebih
dari ini. Kami semua disini, termasuk mama dan aku ingin sekali melihat
senyuman dari Alex kembali, apalagi aku yang baru mengenal sosoknya sekaligus
fakta bahwa dia mempunyai penyakit yang bisa saja nanti merenggut nyawanya. Tidak,
semua itu tidak boleh terjadi, Alex pasti bisa melewati semua ini, kata kak
Mika tadi Alex juga pernah seperti ini sebelumnya, jadi Alex tidak akan
menyerah dari fakta yang terjadi hari ini. Dia pasti akan menemaniku kembali. Aku
yang ingin menumpahkan kesedihanku saat ini, meluapkan semua air mataku, aku
tidak ingin secepat ini berpisah dengan sahabatku yang misterius. Aku masih
ingin mendengar penjelasan tentang penyakitnya itu. Aku masih ingin membaca
ocehannya di social media. Aku merasa bersalah kepada Alex, karena fakta yang
baru aku tahu, aku hanya diam dan merasakan kekesalanku saat ini. Mengapa aku
baru mengetahuinya?
Aku
menemani tante Mirna menjaga Alex yang sampai sekarang belum juga tersadar. Operasi
yang akan dilaksanakan sepuluh menit lagi, aku dan tante Mirna saling mendoakan
yang terbaik untuk Alex. Aku juga meminta mama berdoa untuk Alex setelah sholat
nanti. Mama pulang terlebih dahulu, karena dirumah nggak ada yang siapa – siapa
lagi selain mama yang menjaganya. Jam untuk operasi pun tiba, tante Mirna yang
sedari tadi hanya menangis, semakin jadi tangisnya melihat Alex dibawa keruang
operasi. Aku tidak ingin membuat suasana semakin sedih, jadi aku bersikap
tenang dihadapan keluarga ini. Dan menyemangati tante Mirna agar tidak semakin
down mentalnya.
Satu
jam sudah Alex melewati operasi itu. Kami yang sedang barada didepan ruang
operasi ini menunggu keajaiban dari tuhan agar Alex kembali diberi kesehatan oleh tuhan.
Tetapi, operasi belum juga selesai. Tidak ada dokter yang keluar dari kamar
operasi ini. Sebegitu beratkah penyakit yang diderita Alex? Operasi yang
dilaksanakan bukan pencangkokan ginjal, karena Alex memang tidak ingin orang
lain memberikan ginjal padanya. Aku tidak mengerti seperti apa operasi yang
sedang berjalan dibalik pintu itu. Begitu berat hidup Alex selama ini, dan aku
tidak pernah membayangkan sampai seperti ini.
Dua
jam berlalu….. Tiga jam…. Empat, Lima, sampai Enam jam kemudian akhirnya salah
satu dokter ahli bedah itu keluar memberi informasi yang apakah baik atau
semakin buruk. Om Ketut mulai menerima informasi yang disampaikan oleh dokter tadi,
sepertinya informasi yang kurang baik jika dilihat dari wajah om Ketut. Tante Mirna
semakin bersedih mendengar apa yang disampaikan om Ketut dari dokter tadi. Aku tidak
perlu bertanya lagi pada ibu ini, karena sepertinya hanya akan menambah
kesedihan beliau. Setelah selesainya operasi, Alex belum juga sadar dari
tidurnya. Kapan kamu akan membuka matamu kembali Lex? Tanyaku dalam hati. Apa kamu
sudah lelah menulis kisahmu yang biasanya melewati berandaku itu? Atau tanganmu
sudah capek mengetik kata demi kata di kotak kecil 160 karakter itu? Dimana semangatmu
sahabatku? Aku yakin kau akan segera tersadar dari tidurmu ini. Tidak ada
jawaban dari pertanyaanku itu, hanya ada sautan bunyi dari alat pendeteksi
jantung yang berada disebelahku dan sebelah Alex.
**
Di taman..
Aku
menulis segelintir surat yang biasanya aku juga menulisnya sebulan sekali. Aku tidak
akan berhenti bercerita tentang apa yang sudah aku lewati. Entah kenapa setelah
kejadian itu, aku menjadi melankolis, setiap melewati rumah itu ingin rasanya
aku kembali mampir dan bercanda bersama keluarga yang sederhana namun selalu
bahagia hingga kejadian yang membuat semuanya berubah itu. Setahun ini, aku
telah melewati hari – hariku tanpa sosok misterius itu lagi, tanpa status –
status galau yang biasanya selalu aku baca dari nickname seorang “Alexis Mirna
Tirani”. Cewek yang selalu aku anggap aneh, tidak lagi mempunyai tugas – tugas aneh
yaitu berganti status galau menjadi status galau terbarunya. Berkicau di
twitter mengahabiskan 160 karakter hanya untuk berbagi galau yang dia rasakan
kepada para followersnya. Setelah selesai kutuliskan kisahku di kertas HVS, aku
langkahkan kakiku dan sesampainya disana kuletakkan surat itu dibotol yang
telah aku sediakan dan terlihat beberapa suratku masih berada disana. Kulihat nama
Alexis Mirna Tirani, 24 maret 1996. Aku tersenyum namun masih dalam kesedihan
sama seperti pertama kali tanpanya. Setelah kumasukan surat ke dalam botol, aku
langsung melangkahkan kakiku untuk pulang. Aku tidak ingin berlama – lama disana,
berlama – lama melihat dia yang sudah terbaring tak terlihat tertutup oleh
tanah yang telah berumput.
= kita tidak tahu apa yang sebenernya terjadi dalam setiap diri seseorang
=kita tidak selalu mengerti apa yang mereka jelaskan yang menuntut orang lain harus mengerti
=kita hanya tahu, apa yang mereka lakukan kurang pantas dilakukan
=namun, semoga dari cerita ini kita semua tidak selalu menjudge apa yang teman - teman kita lontarkan apalagi di dunia yang seperti ini (dunia maya) selalu negatif. Bukan karena apa yang mereka katakan, tapi apa yang mereka rasakan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar