Rabu, 06 November 2013

Penggalau Dunia Maya



Hei, penggalau dunia maya. Kenapa kamu begitu menikmati kesedihanmu dan melarikan segalanya dalam tulisan?. Aku telah mengutip semua kegalauanmu lewat tulisan yang kau publikasikan itu. Tidakkah dirimu malu dengan apa yang telah kamu lakukan?. Apa dengan melarikan diri seperti itu membuatmu bahagia? membuatmu tenang? atau hanya agar manusia yang lain mengerti kesedihan yang sedang melanda dirimu?

**

Segelintir kalimat yang kau tata yang menurutmu rapih itu. Seharusnya kau pikir kembali kalimat - kalimat yang harus kau lempar di media yang seperti samudra ini. Kau hina, kau caci orang yang tidak menyukaimu. Kau lontarkan kata - kata yang tak sepantasnya kau keluarkan dari tulisanmu. Apa kau pikir orang menyenanginya???

**

Merasa hebatkah dirimu telah menceritakan dirimu disana? Kau tahu, tulisan yang kau lebih - lebihkan, kesedihan yang selalu kau cari agar dapat kau "post" kembali di dunia sempit tetapi luas ini. Membuatku merasa kasihan kepadamu. Karena dengan kau bercerita semuanya, membuat dirimu sendiri dipermalukan oleh tanganmu. Hanya itukah yang bisa kau lakukan? Tak bisa kau lebih mendewasakan diri menghadapi masalahmu??

**

Aku terharu membacanya, sedikit tangis yang kau gelintirkan di dalam tulisan itu. Tidak ubahnya bayi yang sedang merintih menunggu asi. Detik ini, aku membacanya kembali. Lucu kelihatannya, tapi agak geli membayangkannya. Aahhhh, diimunisasi dengan sedikit lelucon mungkin agak berirama membacanya.

**

        Cewek berambut panjang yang selalu mengepang keatas rambutnya, sedang asik bersantai di tengah panasnya cuaca hari ini. Sesekali cewek itu menyeduh teh yang kelihatannya mulai dingin melawan panasnya matahari. Berkutat dengan laptop yang ada dihadapannya. Mungkin sedang mengisahkan kegalauan yang menimpanya hari ini atau yang telah ia lewati kemarin. Rasanya aku ingin bergabung dengannya, sekedar ingin menguping langsung cerita dari dia. Tidak selalu mengetahuinya lewat facebook ataupun twitter. Jujur, karena terlalu seringnya dia berkisah tentang masalah , masalah dan masalah, sepertinya hidup cewek itu selalu didatangi oleh keluarga masalah.

**

        Di dunmai sih nicknamenya Alex, lengkapnya Alexis bla bla bla.. dia tetangga baruku dan aku hanya bertegur sapa dengannya sekali saja. Waktu mama mengunjungi rumahnya yang tepat didepan rumahku. Maklum di perumahan ini, jalannya agak seperti gang - gang kecil di perkampungan. Jadi, jika ada keluarga baru, entah itu disamping rumahku, berjarak dua rumah dari rumahku, hingga rumah diujung kompleks depan mama selalu bertandang ke tetangga barunya. Dan sekarang giliran keluarga Alex yang mama kunjungi. Mama memang orang yang selalu riang, apapun yang menurutnya baik selalu dilakukan perempuan yang hampir berusia lima puluh tahun ini. Mama mengajakku ke tempat Alex, karena sama - sama ada anak gadis tuturnya. Karena aku nggak bisa membantah perkataan mama, jadilah aku ikut tante - tante girang ini. Sampai di depan rumah Alex, mama Alex sangat menerima kehadiran dan niat baik mama, kami lebih tepatnya. Mama Alex sangat ramah ternyata, persis dengan mama, dari pertemuan pertama mereka, mereka langsung merasa akrab dan bisa dijadikan tempat kuliner mama yang baru. Hehehee

        Alex yang saat itu sedang berada dikamarnya, dipanggil dan berkenalan denganku. Berbincang - bincang menanyakan hal - hal yang menurutku anak kecil banget. Nggak hanya pindah rumah, Alex juga pindah sekolah. Dan yang lebih mengagetkan, dia pindah sekolah di tempatku. Iya, sejak itu dia menjadi tetangga sekaligus teman sekolahku. Tapi dari perkenalan pertama dengannya aku kurang sedikit merasa klop, Alex yang sedikit pendiam sulit rasanya untuk bersosialisasi dengan lingkungan yang baru, termasuk denganku. Di sekolah antara aku dan Alex nggak pernah mengobrol kembali. Tentang bagaimana aku mendapatkan Facebook dan Twitter Alex, iseng mencari - cari namanya di kolom search, beberapa menit kemudian aku mendapatkan keduanya. Berniat untuk mulai mengenalnya  lewat dunia maya, tetapi gagal! chat yang terkadang aku kirim hanya dibalas singkat saja. Itu artinya dia nggak terlalu in come denganku.

**

.."mengapa kita yang baru memasuki lingkaran kehidupan, sulit diterima di lingkaran yang baru itu?"..

         Itu adalah kutipan status yang pernah nangkring di halaman beranda facebookku. Alex, kenapa kamu menulis seperti itu? apa kau merasa dirimu tidak diterima di dunia barumu ini? padahal aku ingin sekali mengenalmu, menjadi temanmu dirumah dan disekolah. Syukur - syukur menjadi sahabat barumu. Belum cukup berhenti disitu, masih banyak catatan - catatan pendek Alex yang melewati papan berandaku, entah di facebook maupun di twitter. Ingin rasanya aku mengomentari catatan harian publik itu. Tapi, kuurangkan niatku, takut tercuekkan kembali oleh si cuek cewek misterius yang satu ini.

        Tiga bulan sudah Alex menjadi warga kompleks perumahanku. Tetapi hanya mama, kakak, dan ayahnya yang rajin tertawa ketimbang Alex yang kayaknya selalu menekuk wajahnya. Masalah apa yang sedang dihadapinya, entahlah hanya Alex dan tuhannya yang tahu. Keluarga Alex beragama hindu, dia pindahan dari pulau Dewata yang dibanjiri bule itu. Nggak tahu apa yang mengirim keluarga Alex, hingga akhirnya terdampar di tempat panas nan sesak ini.

**
        Siang ini akan kuberanikan melangkahkan kakiku ke tempat dia bersantai sekarang. Alex yang sedang berada di taman perumahan depan memanfaatkan gratisan wifi disana. Jantungku berdetak kencang, takut tercuekkan kembali oleh cueknya si Alex..

"Hai Lex, boleh gabungan?" sapaku sok tenang.

"Iya nggak apa - apa, silahkan!". Jawabnya sambil tersenyum.

"Sendirian aja nih Lex? kok betah?"..

"Iya, habisnya nggak ada yang mau diajakin. Kakakku nggak mungkin banget"..

"Aku sering disini, disini nyaman. Kalau kamu butuh temen, kamu bisa ajakin aku kalau kamu mau".. Percikku sedikit canggung.

"ohh, nggak apa - apa nih? nanti kamu sibuk lagi"..

"aku nggak pernah sibuk, paling - paling juga gara - gara mama aku sibuknya. Itupun cuma disuruh nyegerin bunga - bunganya"..

"Iyaudah, kapan - kapan ya"..

"Okedeh..."..

        Kami mengobrol hingga sore di pelataran taman itu. Nggak nyangka, setelah sekian lama nggak berkomunikasi dengan Alex. Alex yang dulu pernah aku tahu walaupun hanya beberapa jam. Sekarang dia seperti orang asing kembali, banyak bicara juga ternyata, jadi kami merasa cocok satu sama lain dalam hal bergosip. Hehehee

        Alex orang yang nyaman diajak jika diajak ngobrol seperti tadi. Dan akhirnya, sejak itu kami semakin dekat, juga disekolah. Banyak teman - temanku yang menanyakan bagaimana bisa aku dekat dengan Alex, sedangkan yang mereka tahu, Alex adalah sosok yang sangat pendiam sampai - sampai mengalahkan batu sekalipun. Alex selain cantik dan pintar, ternyata dia juga baik. Hanya saja, Alex belum siap mengenal yang lainnya. Mungkin! karena akupun juga belum mengenal Alex begitu lama.

        Sepulang sekolah, kami berdua memutuskan untuk ke salah satu mall yang lokasinya nggak seberapa jauh dari tempat kami. Nggak tahu kenapa, Alex selalu takut pulang telat atau terlalu sore. Dia bilangnya sih, karena harus ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal. Aku manut aja sama kata - katanya. Paling - paling dia harus update status galaunya menjadi status galau yang terbaru. Bisa jadi!!

        Di mall, kami hanya menyempatkan untuk membeli aksesoris seperti kalung etnik yang talinya sampai sejajar dengan perut. Alex membeli ikat rambut, maklumlah sepertinya dia pengoleksi ikat rambut. Aku perhatikan, tiap hari Alex selalu bergonta - ganti model ikat rambutnya. Dan tepat saja, yang dituju pertama kali adalah rak ikat rambut. Setelah beberapa menit di counter pernak pernik wanita ini, kami segera turun dan pulang. Alex kayaknya nggak pernah tenang kalau aku ajak keluar, pulang sekolah apalagi. 

**

Dikamar..

        Badanku terasa lelah sekali, padahal tadi siang hanya sebentar cuci matanya di mall. Setelah kuhempaskan badanku yang mungil ini di sponge empuk dekat jendela kamar, Alex melintasi pikiranku. Kusempatkan sebentar untuk mengecek timeline dan beranda facebook. benar saja, Alex sudah memperbarui statusnya, dan lagi - lagi galau yang dia rasakan. Sebenernya apa sih yang Alex hadapi dari dulu sampai sekarang? kenapa dia nggak pernah ingin berbagi cerita tentang kegalauannya itu padaku? padahal kita berteman sudah cukup lama, cukup untuk mempercayaiku menjadi teman sekaligus tempat curhatnya. Tetapi, mengapa Alex masih misterius tentang kegalauan itu? dan lebih percaya kepada sosial media ini dibanding diriku yang nyata?. Yaa, mungkin facebook dan twitter telah lebih lama menjadi temannya dibanding diriku yang hanya beberapa bulan ini menjadi kenalannya. Iya, mungkin itu jawabannya. Aku hanya bisa mengerutkan dahiku saat Alex kambali mengeluh di dunianya itu.

        Aku nggak pernah bertanya, mengapa dia selalu mengeluh di facebook? kenapa twit - twitnya selalu berisi kesedihan?. Aku merasa sungkan untuk menanyakan hal itu kepadanya. Alex juga tidak pernah memasuki duniaku lebih dalam, aku dan Alex hanya berteman biasa dan saling mengisi jika bertemu saja. Ku tutup jendela browser ku, dan mulai kumatikan laptopku. Karena mataku yang telah memberi isyarat untuk istirahat..

**

Keesokan harinya..

        Kriiiinggggg---kriinggggg, alarm wekerku yang kutaruh didekat telinga semalam. Merintih hebat sambil menunjukkan pukul  04.00 wib. Gilaaa, jam segini aku sudah harus bangun dan parahnya dibangunkan oleh jam weker yang berisik ini.

        Hari ini aku harus bergegas kesekolah karena ada acara pentas seni di sekolahku. Dan karena harus nemenin mama ke pasar dulu untuk belanja kebutuhan depot yang sudah sold out dari list, jadi aku membangunkan diri dari dunia mimpi lebih awal dari biasanya. Sebelumnya sih biasanya mama belanja di supermarket karena tempatnya juga lebih dekat dari depot, namun karena kebutuhan yang katanya lebih banyak, jadi mama mutusin untuk mencari bahannya di pasar. Aku sedikit protes ke mama, sungguh jujur aku nggak betah dengan suasana pasar yang sudah nggak terawat dan sedikit agak mengotori udara yang pagi - pagi harusnya sejuk dan segar menjadi agak sedikit usang karena nggak teraturnya kondisi pasar. Tapi, apa boleh buat ini adalah keputusan mama yang nggak bisa diganggu gugat.

06.13 wib......

        Untung saja sekolahku hanya berjarak beberapa kilo dari rumah. Jadi sepulang dari pasar tadi aku nggak begitu khawatir takut telat sampai disekolah nanti. Hari ini, aku harus rapat OSIS terlebih dulu jadi berangkatnya sedikit maju. Aku sudah mengabari Alex kalau hari ini aku berangkat lebih cepat dan nggak bisa berangkat bareng, untung dia mau mengerti. Aku gas motorku secepat mungkin agar sesampainya disekolah aku masih bisa leyeh - leyeh di base camp.

        Hari ini semua pelajaran free, dan begitu senangnya otakku karena terbebas dari pelajaran - pelajaran yang melelahkan itu. Tapi, kali ini aku akan mengeluarkan tenagaku dua kali lipat, untuk acara yang diadakan sekolahku hari ini dan untuk dua hari kedepan. Bayangkan, meskipun terbebas dari tugas belajar tapi, aku akan memasuki fase dimana otot – ototku harus bekerja keras. Ya, setidaknya aku akan menyiapkan fisikku agar nggak jatuh sakit setelah kelelahan nanti. Hari ini, aku nggak bertemu Alex sama sekali disekolah. Sebegitu sibukkah diriku sampai - sampai bertemu si misterius yang satu itu saja belum sempat. Sedang apa cewek penggalau itu? Apa sedang mengetik kata demi kata yang akhirnya menjadi kalimat yang mengharukan, dan nggak lupa membagikannya didunia maya yang akhirnya melewati halaman rumah mayaku juga. Semoga saja nggak, pikirku. 

**

2 hari kemudian..

        Begitu lelah ternyata bermain – main dengan tugas seperti kemarin. Badanku lebam – lebam, encok semua rasanya. Sekarang giliran mama yang harus memanjakan anak satu – satunya yang cantik ini. Aku dan mama yang hanya hidup berdua setelah kepergian papa dua tahun yang lalu. Dan selama dua tahun ini kami harus menjalani kehidupan tanpa seorang imam, tanpa sosok laki – laki dewasa dirumah kami. Dan aku anak  satu – satunya dirumah ini harus berpikir keras bagaimana besok aku harus membuat mama dan papaku disana bangga dengan diriku yang biasa – biasa ini. Nggak ada yang namanya main – main, saat ini semuanya harus serba hati – hati dalam melangkah.

        Setelah selesai mama memanjakan badanku yang encok lagi lebam ini, selagi membaringkan badan di sponge yang empuk sesekali berkutat dengan laptop. Log in di facebook dan twitter, karena memang hanya itu social media yang aku punya. Ketebaklah sudah, nama yang nggak asing diingatanku sedang asyik bergumam di beranda facebook. Oh tuhan, apalagi yang sedang dia ketik di kotak status itu. Sepertinya lama sekali aku belum bertemu anak ini, kangen rasanya bercanda sepulang sekolah. Aku bergegas mengetik pesan diponselku.

“Malem, hai apa kabar?”

Segera ku pencet send, yang kutujukan pada kontak yang bernama “Eleksis”. Beberapa menit kemudian aku mendapat balasan dari kontak tadi.

“Malem 2, baik – baik dong. Loe gimana badannya setelah tiga hari ini?”.

Send “Badanku kayak ditimpuk beban sepuluh ton. Hehe *bercanda”.

“Ah, lebay banget sih loe. Besok masuk nggak?”.

Send “Iyalah, kalo gue bolos. Loe pasti kangen berat liat mukak gue :D “.

“Okedeh see u soon. Ihh amit – amit deh :P “.

Send “Hihihiii. Okeee. (y) “.

Segelintir smsku dengan cewek penggalau tadi. Seperti memiliki kepribadian ganda, berkamulflase dengan dirinya sendiri dan dirinya yang sedang berada di dalam cermin. Aneh sekali.

**

Pelataran sekolah..

        Sesampainya disekolah, aku dan Alex kembali bergumam dengan cerita – cerita kami setelah tiga hari ini. Bagiku saat ini Alex adalah teman yang asyik dan cerewet, nggak seperti yang dikenal anak – anak yang lain bahwa Alex adalah Queen of Silent. Tapi, masih dengan keanehannya, aku belum mengenal Alex seutuhnya karena satu hal, kegalauan yang menimpa Alex setiap harinya itu yang nggak pernah aku tahu penyebabnya.  Sepulang sekolah nanti, Alex ingin membeli kado ultah mamanya di mall biasa yang sering kami kunjungi, dan aku menggangguk – ngangguk saja. Bel berkumandang, aku dan Alex langsung melangkahkan kaki di mall favorit kami. Kuparkir motor bebekku di tempat parkir yang agak pengap di lorong bawah gedung. Langsung aku dan Alex memasuki mall tersebut dengan seragam yang masih menempel di badan kami. Bangga rasanya anak sekolah masuk mall dengan bet yang mencantumkan nama sekolahnya  “Bina Nusantara” atau yang sering disebut Binus ini. Alex mencari kado yang nggak aku mengerti, anak ini memang sulit ditebak deh. Ternyata setelah mengelilingi semua blok di tempat ini akhirnya Alex menemukan yang dia cari, yaitu tempat pemesanan souvenir. Entahlah, apa yang sedang dia pikirkan kenapa  memilih tempat ini?! Alex mulai memilih souvenir yang cocok untuk diberikan ke mamanya, sebenernya sih lebih kepada handmade gitu. Ohh, ternyata si Alex seleranya nggak pasaran, dia memiliki cara tersendiri untuk memberi surprise ke mama tercintanya. Hhmptt, ini jawabannya!!

        Wajah – wajah keluarga sederhana yang dia miliki, terpampang rapih dan unik di kanvas yang berukuran 3 x 3 meter. Ada kak Mika, cowok 20 tahun yang lagi nyelesein kuliahnya di Fakultas Sastra UI. Ada tante Mirna yang manis dan baik hati, suka anak – anak yang periang seperti aku ini. Heheee dan ada Om Ketut, papa Alex. Terkahir, si Cewek penggalau dunmai lagi nyengir menunjukkan gigi gingsulnya yang terlihat manis, yang masih berumur sekitar tiga belas tahun di lukisan itu. Mereka semua terlihat sumringah, merupakan keluarga bahagia dan masih lengkap tentunya. Itulah yang akan diberikan Alex kepada mamanya, yang akan mamasuki usia empat puluh dua tahun. Semoga saja mamanya suka melihat kado dari Alex.

**

Setelah perayaan ulang tahun tante Mirna, Alex langsung meberi kabar melalui pesan pendek.

“Thx ya girl, mama gue suka banget sama kado yang kemaren :D”.

“Ikut seneng dengernya. Sampein salamku buat keluarga loe ya. Happy birthday tante Mirna :D “.

“Thx ya rin, loe sahabat gue yang paling baik”.

        Sahabat? What sahabat dia bilang? Ternyata selama ini cewek penggalau itu nganggep aku sahabatnya? Tapi, kenapa masih misterius untukku? Apa yang selama ini dia katakan “sedih” itu, nggak pernah sekalipun aku menemukan kesedihan dimatanya. Apa ini, bentuk dia tidak ingin membuat orang lain merasakan sedihnya? Tapi, jika memang dia menganggapku sebagai sahabatnya. Pasti ada cerita tentang apa yang dia rasakan selama ini termasuk kesedihan di dunia maya itu.

        Ujian semester kali ini aku memutuskan untuk belajar bersama Alex. Maklumlah, aku yang nggak diunggulkan disekolah mencari orang yang menurutku bisa mmbawa nilaiku lebih baik dibandingkan dengan nilai semester sebelumnya. Alex cewek yang jenius, pintar bicara didepan umum tapi tertutup soal kepribadian dan lingkungannya termasuk didalam  kelas dengan teman – temannya. Kali ini aku yang berkunjung ke rumah dia, sekaligus mencari – cari cemilan gratis yang biasa tante Mirna suguhkan kepadaku. Aku yang tetangganya terlalu sering berkunjung ketempat ini, sudah kenal betul dengan cemilan favoritku, yaitu mente bawang buatan langsung dari tangan tante Mirna.

**

Seminggu kemudian..

        Aku merenungkan kata – kata Alex seminggu terakhir ini. Saat ujian semester ganjil berakhir, Alex sekeluarga memutuskan berlibur ke Bali. Sedang aku, sibuk membantu mama di depot yang semakin hari semakin banyak pelanggannya. Katanya sahabat? Kok selama berlibur Alex nggak ngabarin aku sema sekali. Berlibur katanya, liburan sampai – sampai hapenya di nonaktifkan, takut terganggu masa berliburnya mungkin. Aku selalu ingin menghubunginya, tapi setelah ku pencet tombol “panggil”, selalu diluar jangkauan dan tulalit. Ada apa dengan mereka, terlalu bersenang – senangkah??

        Dua minggu terakhir liburan. Aku dan Alex belum berkomunikasi sekalipun, aku yang katanya sahabatnya semakin was – was menunggu kabar dari Alex. Tapi, selama dua minggu terakhir ini, dia sama sekali nggak mencoba menghubungiku. Aneh, betah banget liburan sampai dua minggu disana. Nggak ingin pulang kerumah baru yang selama ini ditempatin? Mungkin keluarga itu masih ingin menikmati tempat mereka yang dulu. Maklumlah, setelah setengah tahun terakhir baru kali ini mereka sempatkan kembali ke Bali.

**

        Jam weker adalah sahabatku yang paling dekat saat ini, kembali membangunkanku dari mimpi – mimpi tadi yang menurutku indah. Tapi sayang, weker ini nggak mengerti aku masih ingin melanjutkan mimpi indahku. Kompakan bersama datangnya mama, yang menarik selimutku dari ujung kaki. Dengan sedikit kesal aku bertanya kenapa mama membangunkanku seperti biasanya? Padahal sekarang jatah liburan untuk depot. Mama langsung menyaut dengan nada cemprengnya “Alex kritis, sekarang di RSCM. Mama mau kesana, kalau kamu pengen ikut mandi cepetan”.  Hah? Apa? Alex kritis??? Kritis karena apa? Kok tiba – tiba……….. sebelum aku melanjutkan pertanyaan itu mama kembali bergumam “ayoo cepetan, atau mama tinggal!”. Segera aku memasuki kamar mandi, mandiku yang biasanya setengah jam lebih, menjadi lebih cepat dari mandiku jika telat kesekolah. Mandi bebek, hanya berselang beberapa menit. Entahlah, yang penting aku segera bertemu dengan sahabat misteriusku itu. 

**

Paviliun kemuning 9..

        Kulihat sesosok tubuh seksi berparas cantik dan manis, sedang terbaring lemah. Aku yang tidak memberanikan diri masuk hanya bertanya – tanya kenapa menjadi seperti ini? Apa yang telah terjadi kepada cewek dikamar itu? Ada kak Mika yang sedang duduk diluar kamar Alex dirawat, dengan tubuhnya yang sudah lemah, dan aku memberanikan diri untuk menanyakan kejelasan semua ini. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Alex??

Sejam kemudian..

        Dari penjelasan kak Mika tadi, aku mengerti semua kesedihan yang Alex rasakan selama ini, yang Alex keluhkan di social media miliknya itu. Aku mengerti kenapa selama ini hanya social media yang menjadi tempat keluh kesah gadis itu. Dia tidak ingin membebani orang – orang yang dia sayang, orang – orang yang menyayanginya. Dia hanya ingin terlihat bahagia didepan semua orang, meskipun aku tahu sebenarnya selama ini di hati kecilnya, dia sedang merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Sejak berumur tiga tahun Alex menderita kanker yang membuat ginjalnya tidak berfungsi dengan baik. Alex mendapatkan pendonor saat masih berusia tiga belas tahun, tetapi dia menolaknya. Baginya penyakit yang menyerangnya saat ini, adalah kehendak tuhan. Alex tidak pernah mengeluh kepada orang tuanya, keluarga besarnya, dan termasuk kepada sahabat barunya, yaitu aku. Hanya social medialah yang menjadi sasaran tangisnya setiap hari. Saat ini, penyakit itu semakin membuat Alex lemah, hingga saat ini kabel - kabel yang melilit tubuhnya yang tidak beraturan namun Alex hanya terdiam sambil memejamkan matanya. Aku dapat merasakan bagaimana sulitnya menjadi dia yang seperti itu, menjadi kak Mika yang harus tabah melihat adik tersayangnya itu terbaring lemah di rumah sakit, tante Mirna yang sedari pagi berdoa tanpa henti, dan Om Ketut yang bersikap seolah – olah tabah mengahadapinya namun masih terlihat jelas dimatanya bahwa beliau tidak ingin ini terjadi apalagi lebih dari ini. Kami semua disini, termasuk mama dan aku ingin sekali melihat senyuman dari Alex kembali, apalagi aku yang baru mengenal sosoknya sekaligus fakta bahwa dia mempunyai penyakit yang bisa saja nanti merenggut nyawanya. Tidak, semua itu tidak boleh terjadi, Alex pasti bisa melewati semua ini, kata kak Mika tadi Alex juga pernah seperti ini sebelumnya, jadi Alex tidak akan menyerah dari fakta yang terjadi hari ini. Dia pasti akan menemaniku kembali. Aku yang ingin menumpahkan kesedihanku saat ini, meluapkan semua air mataku, aku tidak ingin secepat ini berpisah dengan sahabatku yang misterius. Aku masih ingin mendengar penjelasan tentang penyakitnya itu. Aku masih ingin membaca ocehannya di social media. Aku merasa bersalah kepada Alex, karena fakta yang baru aku tahu, aku hanya diam dan merasakan kekesalanku saat ini. Mengapa aku baru mengetahuinya?

        Aku menemani tante Mirna menjaga Alex yang sampai sekarang belum juga tersadar. Operasi yang akan dilaksanakan sepuluh menit lagi, aku dan tante Mirna saling mendoakan yang terbaik untuk Alex. Aku juga meminta mama berdoa untuk Alex setelah sholat nanti. Mama pulang terlebih dahulu, karena dirumah nggak ada yang siapa – siapa lagi selain mama yang menjaganya. Jam untuk operasi pun tiba, tante Mirna yang sedari tadi hanya menangis, semakin jadi tangisnya melihat Alex dibawa keruang operasi. Aku tidak ingin membuat suasana semakin sedih, jadi aku bersikap tenang dihadapan keluarga ini. Dan menyemangati tante Mirna agar tidak semakin down mentalnya.

        Satu jam sudah Alex melewati operasi itu. Kami yang sedang barada didepan ruang operasi ini menunggu keajaiban dari tuhan  agar Alex kembali diberi kesehatan oleh tuhan. Tetapi, operasi belum juga selesai. Tidak ada dokter yang keluar dari kamar operasi ini. Sebegitu beratkah penyakit yang diderita Alex? Operasi yang dilaksanakan bukan pencangkokan ginjal, karena Alex memang tidak ingin orang lain memberikan ginjal padanya. Aku tidak mengerti seperti apa operasi yang sedang berjalan dibalik pintu itu. Begitu berat hidup Alex selama ini, dan aku tidak pernah membayangkan sampai seperti ini.

        Dua jam berlalu….. Tiga jam…. Empat, Lima, sampai Enam jam kemudian akhirnya salah satu dokter ahli bedah itu keluar memberi informasi yang apakah baik atau semakin buruk. Om Ketut mulai menerima informasi yang disampaikan oleh dokter tadi, sepertinya informasi yang kurang baik jika dilihat dari wajah om Ketut. Tante Mirna semakin bersedih mendengar apa yang disampaikan om Ketut dari dokter tadi. Aku tidak perlu bertanya lagi pada ibu ini, karena sepertinya hanya akan menambah kesedihan beliau. Setelah selesainya operasi, Alex belum juga sadar dari tidurnya. Kapan kamu akan membuka matamu kembali Lex? Tanyaku dalam hati. Apa kamu sudah lelah menulis kisahmu yang biasanya melewati berandaku itu? Atau tanganmu sudah capek mengetik kata demi kata di kotak kecil 160 karakter itu? Dimana semangatmu sahabatku? Aku yakin kau akan segera tersadar dari tidurmu ini. Tidak ada jawaban dari pertanyaanku itu, hanya ada sautan bunyi dari alat pendeteksi jantung yang berada disebelahku dan sebelah Alex.

**

Di taman..

        Aku menulis segelintir surat yang biasanya aku juga menulisnya sebulan sekali. Aku tidak akan berhenti bercerita tentang apa yang sudah aku lewati. Entah kenapa setelah kejadian itu, aku menjadi melankolis, setiap melewati rumah itu ingin rasanya aku kembali mampir dan bercanda bersama keluarga yang sederhana namun selalu bahagia hingga kejadian yang membuat semuanya berubah itu. Setahun ini, aku telah melewati hari – hariku tanpa sosok misterius itu lagi, tanpa status – status galau yang biasanya selalu aku baca dari nickname seorang “Alexis Mirna Tirani”. Cewek yang selalu aku anggap aneh, tidak lagi mempunyai tugas – tugas aneh yaitu berganti status galau menjadi status galau terbarunya. Berkicau di twitter mengahabiskan 160 karakter hanya untuk berbagi galau yang dia rasakan kepada para followersnya. Setelah selesai kutuliskan kisahku di kertas HVS, aku langkahkan kakiku dan sesampainya disana kuletakkan surat itu dibotol yang telah aku sediakan dan terlihat beberapa suratku masih berada disana. Kulihat nama Alexis Mirna Tirani, 24 maret 1996. Aku tersenyum namun masih dalam kesedihan sama seperti pertama kali tanpanya. Setelah kumasukan surat ke dalam botol, aku langsung melangkahkan kakiku untuk pulang. Aku tidak ingin berlama – lama disana, berlama – lama melihat dia yang sudah terbaring tak terlihat tertutup oleh tanah yang telah berumput. 



= kita tidak tahu apa yang sebenernya terjadi dalam setiap diri seseorang
=kita tidak selalu mengerti apa yang mereka jelaskan yang menuntut orang lain harus mengerti
=kita hanya tahu, apa yang mereka lakukan kurang pantas dilakukan
=namun, semoga dari cerita ini kita semua tidak selalu menjudge apa yang teman - teman kita lontarkan apalagi di dunia yang seperti ini (dunia maya) selalu negatif. Bukan karena apa yang mereka katakan, tapi apa yang mereka rasakan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rabu, 06 November 2013

Penggalau Dunia Maya



Hei, penggalau dunia maya. Kenapa kamu begitu menikmati kesedihanmu dan melarikan segalanya dalam tulisan?. Aku telah mengutip semua kegalauanmu lewat tulisan yang kau publikasikan itu. Tidakkah dirimu malu dengan apa yang telah kamu lakukan?. Apa dengan melarikan diri seperti itu membuatmu bahagia? membuatmu tenang? atau hanya agar manusia yang lain mengerti kesedihan yang sedang melanda dirimu?

**

Segelintir kalimat yang kau tata yang menurutmu rapih itu. Seharusnya kau pikir kembali kalimat - kalimat yang harus kau lempar di media yang seperti samudra ini. Kau hina, kau caci orang yang tidak menyukaimu. Kau lontarkan kata - kata yang tak sepantasnya kau keluarkan dari tulisanmu. Apa kau pikir orang menyenanginya???

**

Merasa hebatkah dirimu telah menceritakan dirimu disana? Kau tahu, tulisan yang kau lebih - lebihkan, kesedihan yang selalu kau cari agar dapat kau "post" kembali di dunia sempit tetapi luas ini. Membuatku merasa kasihan kepadamu. Karena dengan kau bercerita semuanya, membuat dirimu sendiri dipermalukan oleh tanganmu. Hanya itukah yang bisa kau lakukan? Tak bisa kau lebih mendewasakan diri menghadapi masalahmu??

**

Aku terharu membacanya, sedikit tangis yang kau gelintirkan di dalam tulisan itu. Tidak ubahnya bayi yang sedang merintih menunggu asi. Detik ini, aku membacanya kembali. Lucu kelihatannya, tapi agak geli membayangkannya. Aahhhh, diimunisasi dengan sedikit lelucon mungkin agak berirama membacanya.

**

        Cewek berambut panjang yang selalu mengepang keatas rambutnya, sedang asik bersantai di tengah panasnya cuaca hari ini. Sesekali cewek itu menyeduh teh yang kelihatannya mulai dingin melawan panasnya matahari. Berkutat dengan laptop yang ada dihadapannya. Mungkin sedang mengisahkan kegalauan yang menimpanya hari ini atau yang telah ia lewati kemarin. Rasanya aku ingin bergabung dengannya, sekedar ingin menguping langsung cerita dari dia. Tidak selalu mengetahuinya lewat facebook ataupun twitter. Jujur, karena terlalu seringnya dia berkisah tentang masalah , masalah dan masalah, sepertinya hidup cewek itu selalu didatangi oleh keluarga masalah.

**

        Di dunmai sih nicknamenya Alex, lengkapnya Alexis bla bla bla.. dia tetangga baruku dan aku hanya bertegur sapa dengannya sekali saja. Waktu mama mengunjungi rumahnya yang tepat didepan rumahku. Maklum di perumahan ini, jalannya agak seperti gang - gang kecil di perkampungan. Jadi, jika ada keluarga baru, entah itu disamping rumahku, berjarak dua rumah dari rumahku, hingga rumah diujung kompleks depan mama selalu bertandang ke tetangga barunya. Dan sekarang giliran keluarga Alex yang mama kunjungi. Mama memang orang yang selalu riang, apapun yang menurutnya baik selalu dilakukan perempuan yang hampir berusia lima puluh tahun ini. Mama mengajakku ke tempat Alex, karena sama - sama ada anak gadis tuturnya. Karena aku nggak bisa membantah perkataan mama, jadilah aku ikut tante - tante girang ini. Sampai di depan rumah Alex, mama Alex sangat menerima kehadiran dan niat baik mama, kami lebih tepatnya. Mama Alex sangat ramah ternyata, persis dengan mama, dari pertemuan pertama mereka, mereka langsung merasa akrab dan bisa dijadikan tempat kuliner mama yang baru. Hehehee

        Alex yang saat itu sedang berada dikamarnya, dipanggil dan berkenalan denganku. Berbincang - bincang menanyakan hal - hal yang menurutku anak kecil banget. Nggak hanya pindah rumah, Alex juga pindah sekolah. Dan yang lebih mengagetkan, dia pindah sekolah di tempatku. Iya, sejak itu dia menjadi tetangga sekaligus teman sekolahku. Tapi dari perkenalan pertama dengannya aku kurang sedikit merasa klop, Alex yang sedikit pendiam sulit rasanya untuk bersosialisasi dengan lingkungan yang baru, termasuk denganku. Di sekolah antara aku dan Alex nggak pernah mengobrol kembali. Tentang bagaimana aku mendapatkan Facebook dan Twitter Alex, iseng mencari - cari namanya di kolom search, beberapa menit kemudian aku mendapatkan keduanya. Berniat untuk mulai mengenalnya  lewat dunia maya, tetapi gagal! chat yang terkadang aku kirim hanya dibalas singkat saja. Itu artinya dia nggak terlalu in come denganku.

**

.."mengapa kita yang baru memasuki lingkaran kehidupan, sulit diterima di lingkaran yang baru itu?"..

         Itu adalah kutipan status yang pernah nangkring di halaman beranda facebookku. Alex, kenapa kamu menulis seperti itu? apa kau merasa dirimu tidak diterima di dunia barumu ini? padahal aku ingin sekali mengenalmu, menjadi temanmu dirumah dan disekolah. Syukur - syukur menjadi sahabat barumu. Belum cukup berhenti disitu, masih banyak catatan - catatan pendek Alex yang melewati papan berandaku, entah di facebook maupun di twitter. Ingin rasanya aku mengomentari catatan harian publik itu. Tapi, kuurangkan niatku, takut tercuekkan kembali oleh si cuek cewek misterius yang satu ini.

        Tiga bulan sudah Alex menjadi warga kompleks perumahanku. Tetapi hanya mama, kakak, dan ayahnya yang rajin tertawa ketimbang Alex yang kayaknya selalu menekuk wajahnya. Masalah apa yang sedang dihadapinya, entahlah hanya Alex dan tuhannya yang tahu. Keluarga Alex beragama hindu, dia pindahan dari pulau Dewata yang dibanjiri bule itu. Nggak tahu apa yang mengirim keluarga Alex, hingga akhirnya terdampar di tempat panas nan sesak ini.

**
        Siang ini akan kuberanikan melangkahkan kakiku ke tempat dia bersantai sekarang. Alex yang sedang berada di taman perumahan depan memanfaatkan gratisan wifi disana. Jantungku berdetak kencang, takut tercuekkan kembali oleh cueknya si Alex..

"Hai Lex, boleh gabungan?" sapaku sok tenang.

"Iya nggak apa - apa, silahkan!". Jawabnya sambil tersenyum.

"Sendirian aja nih Lex? kok betah?"..

"Iya, habisnya nggak ada yang mau diajakin. Kakakku nggak mungkin banget"..

"Aku sering disini, disini nyaman. Kalau kamu butuh temen, kamu bisa ajakin aku kalau kamu mau".. Percikku sedikit canggung.

"ohh, nggak apa - apa nih? nanti kamu sibuk lagi"..

"aku nggak pernah sibuk, paling - paling juga gara - gara mama aku sibuknya. Itupun cuma disuruh nyegerin bunga - bunganya"..

"Iyaudah, kapan - kapan ya"..

"Okedeh..."..

        Kami mengobrol hingga sore di pelataran taman itu. Nggak nyangka, setelah sekian lama nggak berkomunikasi dengan Alex. Alex yang dulu pernah aku tahu walaupun hanya beberapa jam. Sekarang dia seperti orang asing kembali, banyak bicara juga ternyata, jadi kami merasa cocok satu sama lain dalam hal bergosip. Hehehee

        Alex orang yang nyaman diajak jika diajak ngobrol seperti tadi. Dan akhirnya, sejak itu kami semakin dekat, juga disekolah. Banyak teman - temanku yang menanyakan bagaimana bisa aku dekat dengan Alex, sedangkan yang mereka tahu, Alex adalah sosok yang sangat pendiam sampai - sampai mengalahkan batu sekalipun. Alex selain cantik dan pintar, ternyata dia juga baik. Hanya saja, Alex belum siap mengenal yang lainnya. Mungkin! karena akupun juga belum mengenal Alex begitu lama.

        Sepulang sekolah, kami berdua memutuskan untuk ke salah satu mall yang lokasinya nggak seberapa jauh dari tempat kami. Nggak tahu kenapa, Alex selalu takut pulang telat atau terlalu sore. Dia bilangnya sih, karena harus ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal. Aku manut aja sama kata - katanya. Paling - paling dia harus update status galaunya menjadi status galau yang terbaru. Bisa jadi!!

        Di mall, kami hanya menyempatkan untuk membeli aksesoris seperti kalung etnik yang talinya sampai sejajar dengan perut. Alex membeli ikat rambut, maklumlah sepertinya dia pengoleksi ikat rambut. Aku perhatikan, tiap hari Alex selalu bergonta - ganti model ikat rambutnya. Dan tepat saja, yang dituju pertama kali adalah rak ikat rambut. Setelah beberapa menit di counter pernak pernik wanita ini, kami segera turun dan pulang. Alex kayaknya nggak pernah tenang kalau aku ajak keluar, pulang sekolah apalagi. 

**

Dikamar..

        Badanku terasa lelah sekali, padahal tadi siang hanya sebentar cuci matanya di mall. Setelah kuhempaskan badanku yang mungil ini di sponge empuk dekat jendela kamar, Alex melintasi pikiranku. Kusempatkan sebentar untuk mengecek timeline dan beranda facebook. benar saja, Alex sudah memperbarui statusnya, dan lagi - lagi galau yang dia rasakan. Sebenernya apa sih yang Alex hadapi dari dulu sampai sekarang? kenapa dia nggak pernah ingin berbagi cerita tentang kegalauannya itu padaku? padahal kita berteman sudah cukup lama, cukup untuk mempercayaiku menjadi teman sekaligus tempat curhatnya. Tetapi, mengapa Alex masih misterius tentang kegalauan itu? dan lebih percaya kepada sosial media ini dibanding diriku yang nyata?. Yaa, mungkin facebook dan twitter telah lebih lama menjadi temannya dibanding diriku yang hanya beberapa bulan ini menjadi kenalannya. Iya, mungkin itu jawabannya. Aku hanya bisa mengerutkan dahiku saat Alex kambali mengeluh di dunianya itu.

        Aku nggak pernah bertanya, mengapa dia selalu mengeluh di facebook? kenapa twit - twitnya selalu berisi kesedihan?. Aku merasa sungkan untuk menanyakan hal itu kepadanya. Alex juga tidak pernah memasuki duniaku lebih dalam, aku dan Alex hanya berteman biasa dan saling mengisi jika bertemu saja. Ku tutup jendela browser ku, dan mulai kumatikan laptopku. Karena mataku yang telah memberi isyarat untuk istirahat..

**

Keesokan harinya..

        Kriiiinggggg---kriinggggg, alarm wekerku yang kutaruh didekat telinga semalam. Merintih hebat sambil menunjukkan pukul  04.00 wib. Gilaaa, jam segini aku sudah harus bangun dan parahnya dibangunkan oleh jam weker yang berisik ini.

        Hari ini aku harus bergegas kesekolah karena ada acara pentas seni di sekolahku. Dan karena harus nemenin mama ke pasar dulu untuk belanja kebutuhan depot yang sudah sold out dari list, jadi aku membangunkan diri dari dunia mimpi lebih awal dari biasanya. Sebelumnya sih biasanya mama belanja di supermarket karena tempatnya juga lebih dekat dari depot, namun karena kebutuhan yang katanya lebih banyak, jadi mama mutusin untuk mencari bahannya di pasar. Aku sedikit protes ke mama, sungguh jujur aku nggak betah dengan suasana pasar yang sudah nggak terawat dan sedikit agak mengotori udara yang pagi - pagi harusnya sejuk dan segar menjadi agak sedikit usang karena nggak teraturnya kondisi pasar. Tapi, apa boleh buat ini adalah keputusan mama yang nggak bisa diganggu gugat.

06.13 wib......

        Untung saja sekolahku hanya berjarak beberapa kilo dari rumah. Jadi sepulang dari pasar tadi aku nggak begitu khawatir takut telat sampai disekolah nanti. Hari ini, aku harus rapat OSIS terlebih dulu jadi berangkatnya sedikit maju. Aku sudah mengabari Alex kalau hari ini aku berangkat lebih cepat dan nggak bisa berangkat bareng, untung dia mau mengerti. Aku gas motorku secepat mungkin agar sesampainya disekolah aku masih bisa leyeh - leyeh di base camp.

        Hari ini semua pelajaran free, dan begitu senangnya otakku karena terbebas dari pelajaran - pelajaran yang melelahkan itu. Tapi, kali ini aku akan mengeluarkan tenagaku dua kali lipat, untuk acara yang diadakan sekolahku hari ini dan untuk dua hari kedepan. Bayangkan, meskipun terbebas dari tugas belajar tapi, aku akan memasuki fase dimana otot – ototku harus bekerja keras. Ya, setidaknya aku akan menyiapkan fisikku agar nggak jatuh sakit setelah kelelahan nanti. Hari ini, aku nggak bertemu Alex sama sekali disekolah. Sebegitu sibukkah diriku sampai - sampai bertemu si misterius yang satu itu saja belum sempat. Sedang apa cewek penggalau itu? Apa sedang mengetik kata demi kata yang akhirnya menjadi kalimat yang mengharukan, dan nggak lupa membagikannya didunia maya yang akhirnya melewati halaman rumah mayaku juga. Semoga saja nggak, pikirku. 

**

2 hari kemudian..

        Begitu lelah ternyata bermain – main dengan tugas seperti kemarin. Badanku lebam – lebam, encok semua rasanya. Sekarang giliran mama yang harus memanjakan anak satu – satunya yang cantik ini. Aku dan mama yang hanya hidup berdua setelah kepergian papa dua tahun yang lalu. Dan selama dua tahun ini kami harus menjalani kehidupan tanpa seorang imam, tanpa sosok laki – laki dewasa dirumah kami. Dan aku anak  satu – satunya dirumah ini harus berpikir keras bagaimana besok aku harus membuat mama dan papaku disana bangga dengan diriku yang biasa – biasa ini. Nggak ada yang namanya main – main, saat ini semuanya harus serba hati – hati dalam melangkah.

        Setelah selesai mama memanjakan badanku yang encok lagi lebam ini, selagi membaringkan badan di sponge yang empuk sesekali berkutat dengan laptop. Log in di facebook dan twitter, karena memang hanya itu social media yang aku punya. Ketebaklah sudah, nama yang nggak asing diingatanku sedang asyik bergumam di beranda facebook. Oh tuhan, apalagi yang sedang dia ketik di kotak status itu. Sepertinya lama sekali aku belum bertemu anak ini, kangen rasanya bercanda sepulang sekolah. Aku bergegas mengetik pesan diponselku.

“Malem, hai apa kabar?”

Segera ku pencet send, yang kutujukan pada kontak yang bernama “Eleksis”. Beberapa menit kemudian aku mendapat balasan dari kontak tadi.

“Malem 2, baik – baik dong. Loe gimana badannya setelah tiga hari ini?”.

Send “Badanku kayak ditimpuk beban sepuluh ton. Hehe *bercanda”.

“Ah, lebay banget sih loe. Besok masuk nggak?”.

Send “Iyalah, kalo gue bolos. Loe pasti kangen berat liat mukak gue :D “.

“Okedeh see u soon. Ihh amit – amit deh :P “.

Send “Hihihiii. Okeee. (y) “.

Segelintir smsku dengan cewek penggalau tadi. Seperti memiliki kepribadian ganda, berkamulflase dengan dirinya sendiri dan dirinya yang sedang berada di dalam cermin. Aneh sekali.

**

Pelataran sekolah..

        Sesampainya disekolah, aku dan Alex kembali bergumam dengan cerita – cerita kami setelah tiga hari ini. Bagiku saat ini Alex adalah teman yang asyik dan cerewet, nggak seperti yang dikenal anak – anak yang lain bahwa Alex adalah Queen of Silent. Tapi, masih dengan keanehannya, aku belum mengenal Alex seutuhnya karena satu hal, kegalauan yang menimpa Alex setiap harinya itu yang nggak pernah aku tahu penyebabnya.  Sepulang sekolah nanti, Alex ingin membeli kado ultah mamanya di mall biasa yang sering kami kunjungi, dan aku menggangguk – ngangguk saja. Bel berkumandang, aku dan Alex langsung melangkahkan kaki di mall favorit kami. Kuparkir motor bebekku di tempat parkir yang agak pengap di lorong bawah gedung. Langsung aku dan Alex memasuki mall tersebut dengan seragam yang masih menempel di badan kami. Bangga rasanya anak sekolah masuk mall dengan bet yang mencantumkan nama sekolahnya  “Bina Nusantara” atau yang sering disebut Binus ini. Alex mencari kado yang nggak aku mengerti, anak ini memang sulit ditebak deh. Ternyata setelah mengelilingi semua blok di tempat ini akhirnya Alex menemukan yang dia cari, yaitu tempat pemesanan souvenir. Entahlah, apa yang sedang dia pikirkan kenapa  memilih tempat ini?! Alex mulai memilih souvenir yang cocok untuk diberikan ke mamanya, sebenernya sih lebih kepada handmade gitu. Ohh, ternyata si Alex seleranya nggak pasaran, dia memiliki cara tersendiri untuk memberi surprise ke mama tercintanya. Hhmptt, ini jawabannya!!

        Wajah – wajah keluarga sederhana yang dia miliki, terpampang rapih dan unik di kanvas yang berukuran 3 x 3 meter. Ada kak Mika, cowok 20 tahun yang lagi nyelesein kuliahnya di Fakultas Sastra UI. Ada tante Mirna yang manis dan baik hati, suka anak – anak yang periang seperti aku ini. Heheee dan ada Om Ketut, papa Alex. Terkahir, si Cewek penggalau dunmai lagi nyengir menunjukkan gigi gingsulnya yang terlihat manis, yang masih berumur sekitar tiga belas tahun di lukisan itu. Mereka semua terlihat sumringah, merupakan keluarga bahagia dan masih lengkap tentunya. Itulah yang akan diberikan Alex kepada mamanya, yang akan mamasuki usia empat puluh dua tahun. Semoga saja mamanya suka melihat kado dari Alex.

**

Setelah perayaan ulang tahun tante Mirna, Alex langsung meberi kabar melalui pesan pendek.

“Thx ya girl, mama gue suka banget sama kado yang kemaren :D”.

“Ikut seneng dengernya. Sampein salamku buat keluarga loe ya. Happy birthday tante Mirna :D “.

“Thx ya rin, loe sahabat gue yang paling baik”.

        Sahabat? What sahabat dia bilang? Ternyata selama ini cewek penggalau itu nganggep aku sahabatnya? Tapi, kenapa masih misterius untukku? Apa yang selama ini dia katakan “sedih” itu, nggak pernah sekalipun aku menemukan kesedihan dimatanya. Apa ini, bentuk dia tidak ingin membuat orang lain merasakan sedihnya? Tapi, jika memang dia menganggapku sebagai sahabatnya. Pasti ada cerita tentang apa yang dia rasakan selama ini termasuk kesedihan di dunia maya itu.

        Ujian semester kali ini aku memutuskan untuk belajar bersama Alex. Maklumlah, aku yang nggak diunggulkan disekolah mencari orang yang menurutku bisa mmbawa nilaiku lebih baik dibandingkan dengan nilai semester sebelumnya. Alex cewek yang jenius, pintar bicara didepan umum tapi tertutup soal kepribadian dan lingkungannya termasuk didalam  kelas dengan teman – temannya. Kali ini aku yang berkunjung ke rumah dia, sekaligus mencari – cari cemilan gratis yang biasa tante Mirna suguhkan kepadaku. Aku yang tetangganya terlalu sering berkunjung ketempat ini, sudah kenal betul dengan cemilan favoritku, yaitu mente bawang buatan langsung dari tangan tante Mirna.

**

Seminggu kemudian..

        Aku merenungkan kata – kata Alex seminggu terakhir ini. Saat ujian semester ganjil berakhir, Alex sekeluarga memutuskan berlibur ke Bali. Sedang aku, sibuk membantu mama di depot yang semakin hari semakin banyak pelanggannya. Katanya sahabat? Kok selama berlibur Alex nggak ngabarin aku sema sekali. Berlibur katanya, liburan sampai – sampai hapenya di nonaktifkan, takut terganggu masa berliburnya mungkin. Aku selalu ingin menghubunginya, tapi setelah ku pencet tombol “panggil”, selalu diluar jangkauan dan tulalit. Ada apa dengan mereka, terlalu bersenang – senangkah??

        Dua minggu terakhir liburan. Aku dan Alex belum berkomunikasi sekalipun, aku yang katanya sahabatnya semakin was – was menunggu kabar dari Alex. Tapi, selama dua minggu terakhir ini, dia sama sekali nggak mencoba menghubungiku. Aneh, betah banget liburan sampai dua minggu disana. Nggak ingin pulang kerumah baru yang selama ini ditempatin? Mungkin keluarga itu masih ingin menikmati tempat mereka yang dulu. Maklumlah, setelah setengah tahun terakhir baru kali ini mereka sempatkan kembali ke Bali.

**

        Jam weker adalah sahabatku yang paling dekat saat ini, kembali membangunkanku dari mimpi – mimpi tadi yang menurutku indah. Tapi sayang, weker ini nggak mengerti aku masih ingin melanjutkan mimpi indahku. Kompakan bersama datangnya mama, yang menarik selimutku dari ujung kaki. Dengan sedikit kesal aku bertanya kenapa mama membangunkanku seperti biasanya? Padahal sekarang jatah liburan untuk depot. Mama langsung menyaut dengan nada cemprengnya “Alex kritis, sekarang di RSCM. Mama mau kesana, kalau kamu pengen ikut mandi cepetan”.  Hah? Apa? Alex kritis??? Kritis karena apa? Kok tiba – tiba……….. sebelum aku melanjutkan pertanyaan itu mama kembali bergumam “ayoo cepetan, atau mama tinggal!”. Segera aku memasuki kamar mandi, mandiku yang biasanya setengah jam lebih, menjadi lebih cepat dari mandiku jika telat kesekolah. Mandi bebek, hanya berselang beberapa menit. Entahlah, yang penting aku segera bertemu dengan sahabat misteriusku itu. 

**

Paviliun kemuning 9..

        Kulihat sesosok tubuh seksi berparas cantik dan manis, sedang terbaring lemah. Aku yang tidak memberanikan diri masuk hanya bertanya – tanya kenapa menjadi seperti ini? Apa yang telah terjadi kepada cewek dikamar itu? Ada kak Mika yang sedang duduk diluar kamar Alex dirawat, dengan tubuhnya yang sudah lemah, dan aku memberanikan diri untuk menanyakan kejelasan semua ini. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Alex??

Sejam kemudian..

        Dari penjelasan kak Mika tadi, aku mengerti semua kesedihan yang Alex rasakan selama ini, yang Alex keluhkan di social media miliknya itu. Aku mengerti kenapa selama ini hanya social media yang menjadi tempat keluh kesah gadis itu. Dia tidak ingin membebani orang – orang yang dia sayang, orang – orang yang menyayanginya. Dia hanya ingin terlihat bahagia didepan semua orang, meskipun aku tahu sebenarnya selama ini di hati kecilnya, dia sedang merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Sejak berumur tiga tahun Alex menderita kanker yang membuat ginjalnya tidak berfungsi dengan baik. Alex mendapatkan pendonor saat masih berusia tiga belas tahun, tetapi dia menolaknya. Baginya penyakit yang menyerangnya saat ini, adalah kehendak tuhan. Alex tidak pernah mengeluh kepada orang tuanya, keluarga besarnya, dan termasuk kepada sahabat barunya, yaitu aku. Hanya social medialah yang menjadi sasaran tangisnya setiap hari. Saat ini, penyakit itu semakin membuat Alex lemah, hingga saat ini kabel - kabel yang melilit tubuhnya yang tidak beraturan namun Alex hanya terdiam sambil memejamkan matanya. Aku dapat merasakan bagaimana sulitnya menjadi dia yang seperti itu, menjadi kak Mika yang harus tabah melihat adik tersayangnya itu terbaring lemah di rumah sakit, tante Mirna yang sedari pagi berdoa tanpa henti, dan Om Ketut yang bersikap seolah – olah tabah mengahadapinya namun masih terlihat jelas dimatanya bahwa beliau tidak ingin ini terjadi apalagi lebih dari ini. Kami semua disini, termasuk mama dan aku ingin sekali melihat senyuman dari Alex kembali, apalagi aku yang baru mengenal sosoknya sekaligus fakta bahwa dia mempunyai penyakit yang bisa saja nanti merenggut nyawanya. Tidak, semua itu tidak boleh terjadi, Alex pasti bisa melewati semua ini, kata kak Mika tadi Alex juga pernah seperti ini sebelumnya, jadi Alex tidak akan menyerah dari fakta yang terjadi hari ini. Dia pasti akan menemaniku kembali. Aku yang ingin menumpahkan kesedihanku saat ini, meluapkan semua air mataku, aku tidak ingin secepat ini berpisah dengan sahabatku yang misterius. Aku masih ingin mendengar penjelasan tentang penyakitnya itu. Aku masih ingin membaca ocehannya di social media. Aku merasa bersalah kepada Alex, karena fakta yang baru aku tahu, aku hanya diam dan merasakan kekesalanku saat ini. Mengapa aku baru mengetahuinya?

        Aku menemani tante Mirna menjaga Alex yang sampai sekarang belum juga tersadar. Operasi yang akan dilaksanakan sepuluh menit lagi, aku dan tante Mirna saling mendoakan yang terbaik untuk Alex. Aku juga meminta mama berdoa untuk Alex setelah sholat nanti. Mama pulang terlebih dahulu, karena dirumah nggak ada yang siapa – siapa lagi selain mama yang menjaganya. Jam untuk operasi pun tiba, tante Mirna yang sedari tadi hanya menangis, semakin jadi tangisnya melihat Alex dibawa keruang operasi. Aku tidak ingin membuat suasana semakin sedih, jadi aku bersikap tenang dihadapan keluarga ini. Dan menyemangati tante Mirna agar tidak semakin down mentalnya.

        Satu jam sudah Alex melewati operasi itu. Kami yang sedang barada didepan ruang operasi ini menunggu keajaiban dari tuhan  agar Alex kembali diberi kesehatan oleh tuhan. Tetapi, operasi belum juga selesai. Tidak ada dokter yang keluar dari kamar operasi ini. Sebegitu beratkah penyakit yang diderita Alex? Operasi yang dilaksanakan bukan pencangkokan ginjal, karena Alex memang tidak ingin orang lain memberikan ginjal padanya. Aku tidak mengerti seperti apa operasi yang sedang berjalan dibalik pintu itu. Begitu berat hidup Alex selama ini, dan aku tidak pernah membayangkan sampai seperti ini.

        Dua jam berlalu….. Tiga jam…. Empat, Lima, sampai Enam jam kemudian akhirnya salah satu dokter ahli bedah itu keluar memberi informasi yang apakah baik atau semakin buruk. Om Ketut mulai menerima informasi yang disampaikan oleh dokter tadi, sepertinya informasi yang kurang baik jika dilihat dari wajah om Ketut. Tante Mirna semakin bersedih mendengar apa yang disampaikan om Ketut dari dokter tadi. Aku tidak perlu bertanya lagi pada ibu ini, karena sepertinya hanya akan menambah kesedihan beliau. Setelah selesainya operasi, Alex belum juga sadar dari tidurnya. Kapan kamu akan membuka matamu kembali Lex? Tanyaku dalam hati. Apa kamu sudah lelah menulis kisahmu yang biasanya melewati berandaku itu? Atau tanganmu sudah capek mengetik kata demi kata di kotak kecil 160 karakter itu? Dimana semangatmu sahabatku? Aku yakin kau akan segera tersadar dari tidurmu ini. Tidak ada jawaban dari pertanyaanku itu, hanya ada sautan bunyi dari alat pendeteksi jantung yang berada disebelahku dan sebelah Alex.

**

Di taman..

        Aku menulis segelintir surat yang biasanya aku juga menulisnya sebulan sekali. Aku tidak akan berhenti bercerita tentang apa yang sudah aku lewati. Entah kenapa setelah kejadian itu, aku menjadi melankolis, setiap melewati rumah itu ingin rasanya aku kembali mampir dan bercanda bersama keluarga yang sederhana namun selalu bahagia hingga kejadian yang membuat semuanya berubah itu. Setahun ini, aku telah melewati hari – hariku tanpa sosok misterius itu lagi, tanpa status – status galau yang biasanya selalu aku baca dari nickname seorang “Alexis Mirna Tirani”. Cewek yang selalu aku anggap aneh, tidak lagi mempunyai tugas – tugas aneh yaitu berganti status galau menjadi status galau terbarunya. Berkicau di twitter mengahabiskan 160 karakter hanya untuk berbagi galau yang dia rasakan kepada para followersnya. Setelah selesai kutuliskan kisahku di kertas HVS, aku langkahkan kakiku dan sesampainya disana kuletakkan surat itu dibotol yang telah aku sediakan dan terlihat beberapa suratku masih berada disana. Kulihat nama Alexis Mirna Tirani, 24 maret 1996. Aku tersenyum namun masih dalam kesedihan sama seperti pertama kali tanpanya. Setelah kumasukan surat ke dalam botol, aku langsung melangkahkan kakiku untuk pulang. Aku tidak ingin berlama – lama disana, berlama – lama melihat dia yang sudah terbaring tak terlihat tertutup oleh tanah yang telah berumput. 



= kita tidak tahu apa yang sebenernya terjadi dalam setiap diri seseorang
=kita tidak selalu mengerti apa yang mereka jelaskan yang menuntut orang lain harus mengerti
=kita hanya tahu, apa yang mereka lakukan kurang pantas dilakukan
=namun, semoga dari cerita ini kita semua tidak selalu menjudge apa yang teman - teman kita lontarkan apalagi di dunia yang seperti ini (dunia maya) selalu negatif. Bukan karena apa yang mereka katakan, tapi apa yang mereka rasakan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar