Sabtu, 11 Januari 2014

Pelajaran dari-Nya oleh-Mu

Selamat merayakan tahun baru untuk kalian yang merayakannya. Selamat datang di 2014. Semoga tahun ini, lebih baik dari tahun - tahun sebelumnya. Menjadi individu yang lebih berguna dari sebelumnya. Berpikir positif. Berprasangka baik. Dan manfaatkan hidup sebaik mungkin tentunya :))

Rasanya udah lama aku gak nulis di tempat ini. Terakhir yang aku inget. Aku cuman mosting kata - kata yang ada di buku kumpulan puisi - puisiku. Itupun udah jadul. Heheee
Sekarang, di sela - sela kesibukanku bikin film. Iya film. Filmnya masih indie sih. Genre-nya juga masih bisa dibilang ringan. Tapi, jangan anggep enteng jugak ya. Karena satu, menguras waktu, tenaga. Duit apalagi. :D
 Tapi, di sela - sela kesibukan itu juga. Aku nyempetin nulis meskipun gak langsung di depan laptop. Aku gunain sesuatu yang simple tapi bisa buat jari - jariku berolah raga kayak biasanya. Adalah handphone. Ini aku jugak ngepostingnya lewat hape. Jadi agak sedikit amburadul. Gak masalah lah ya. :)

Semalem aku sempet nulis juga. Sama masih lewat hape. Panjang banget. Tapi ternyata belum ke save dan kabar buruknya paginya hapeku sudah dalam keadaan mati. Kehabisan batrei. :)
Sedih sih, karena sudah ngetik panjang dan memang terlalu panjang. Tiba - tiba hilang. :((
Tapi aku masih inget semalem itu aku nulis tentang apa dan siapa. Yaialah, siapa lagi yang jadi inspirasiku buat nulis kalo bukan laki - laki itu. Aha

Laki - laki itu. Satu - satunya laki - laki setelah ayahku yang menjadi panutan hidup saat ini ( cieee kayak yang udah merit aja! ). Gak ada panggilan spesial antara aku dan dia. Hanya saja dia punya tempat tersendiri di hatiku. Entahlah, apa dia juga menyediakan tempat untukku di hatinya. Hanya dia dan Allah yang tau. :)
Aku gak pernah menyesal sama semua yang sudah menjadi pilihanku dan yang sudah aku jalani. Ini pilihanku dan ini yang harus aku jalani. Meskipun aku sadar, ini berat dan gak gampang. Aku nyobak buat ikhlas dan terima resiko apapun. Karena memang sudah kayak gitu pilihan yang aku pilih.
Aku menyayanginya dan selalu ingin menyayanginya. Apapun resikonya. Tapi Alhamdulillah, aku masih bisa ngontrol kadar “kasih sayang” dan “mencintai” itu. Selebihnya masih kepada sang pemberi nafas. Allah azza wa jallaa.

“Aku tau, suatu saat nanti kamu akan menyayangiku lebih dari diriku menyayangimu”. Entahlah, aku selalu berpikir positif kalo masalahnya tentang kesabaran dan bertahan. Seolah - olah aku mengemis kasih sayangnya. Tapi apa boleh buat. Aku mencintainya, dia juga bilang mencintaiku. Apa lagi yang masih mau disalahkan?

Dulu, kamu ninggalin aku. Kamu menyerah nunggu aku. Tapi, itu bukan caraku. Bukan mencari pelampiasan ke orang di sekitar yang membuatmu bahagia. Meskipun hanya untuk melampiaskan emosimu. Aku disini masih terperangkap di tempatmu. Di 13 Juni dulu itu. Di terminal, sebelum akhirnya kamu bilang kalo kamu sudah punya pacar. Aku mengerti rasanya nunggu sesuatu yang kita harapkan tapi gak kunjung datang. Allah memang selalu adil. Dan ini cukup adil untukku. Mulai saat itu, gilirankulah yang harus nunggu kamu. Kamu memang gak mintak, tapi aku yakin suatu hari nanti kamu akan kembali. Meskipun ceritanya sudah beda. Sampai saat ini aku masih nunggu kamu meskipun kita sudah sama - sama lagi. Aku tetep nungguin kamu yang dulu, yang selalu nanyain kabarku meskipun aku selalu cuekin kamu. Meksa nganter pulang meskipun selalu aku jawab “jangan repot - repot”. Ngajakin keluar dan selalu aku tolak. Jemput dan nganter pulang dari kampus meskipun ekspresiku selalu datar didepanmu. Bolehkah aku bernostalgia dengan mereka semua??? Tapi akan amat sangat berbeda. Kalo kamu dulu masih nunggu. Sekarang kalo kamu sudah kembali seperti waktu itu pasti aku jawab iya, bales cepet - cepet, dan mungkin aku yang ngajakin kamu keluar. Tapi…waktu tidak akan pernah kembali. Aku sadar itu..

Dari pertama ospek. Kamu bilang ke temen - temen, sudah ada kemistri dari pertama meskipun diantara kamu dan aku belum sadar. Kamu tanyak, kenapa cuma kamu yang bisa dapet no. Hapeku waktu itu?? Aku gak punya jawaban dari pertanyaan simple yang kamu berikan. Aku juga gak sadar, kenapa dari sekian banyak anak di kelas. Cuma kamu yang aku sungkani? Terlalu banyak kesamaan meskipun wajahku dan kamu gak identik. Sifat, sikap, (kecuali crewet dan nyebelin). Dari seringnya makek baju dengan warna senada, sampek tanggal lahir. Aku semakin cinta sama angka 13. Kata siapa 13 itu angka sial?? Bagiku, 13 adalah kebahagiaanku, semoga juga menjadi kebahagiaanmu. Aamiin.. Kalo katanya orang, kebetulan itu gak sering. Tapi kita sering banget makek baju yang warnanya sama. :D

Aku bukan wanita istimewa..
Aku belum menjadi istimewa di hatimu. Dan aku tidak memaksa itu. Karena hidupmu kamu yang tentukan. Aku hanya bisa berdoa dan menyemangatimu. Dan akupun bersemangat saat kamu sudah gak lagi ngejar - ngejar aku, nyarik aku, meksa aku. Aku bersemangat karna kata - kata yang seperti ini “Sampai berjumpa di waktu yang tepat jodohku”. Dulu aku berdoa, aku masih ingat saat aku merintih kepada Allah. Curhat kepada Allah. “Kenapa baru sekarang aku merasakan ini ya Allah, kenapa gak waktu dia masih berusaha ingin bersamaku?”. Gak ada yang harus ditangisi, gak ada yang harus disesali. Allah mempunyai rencana lain di balik itu semua. Dan, mungkin inilah rencana Allah. Mengembalikan dia kepadaku, dengan cerita yang berbeda. Giliranku yang harus menunggunya. Agar aku mengerti, bagaimana kamu dulu telah menungguku.

Terimakasih untuk pelajaran hidup ini ya Allah.. :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 11 Januari 2014

Pelajaran dari-Nya oleh-Mu

Selamat merayakan tahun baru untuk kalian yang merayakannya. Selamat datang di 2014. Semoga tahun ini, lebih baik dari tahun - tahun sebelumnya. Menjadi individu yang lebih berguna dari sebelumnya. Berpikir positif. Berprasangka baik. Dan manfaatkan hidup sebaik mungkin tentunya :))

Rasanya udah lama aku gak nulis di tempat ini. Terakhir yang aku inget. Aku cuman mosting kata - kata yang ada di buku kumpulan puisi - puisiku. Itupun udah jadul. Heheee
Sekarang, di sela - sela kesibukanku bikin film. Iya film. Filmnya masih indie sih. Genre-nya juga masih bisa dibilang ringan. Tapi, jangan anggep enteng jugak ya. Karena satu, menguras waktu, tenaga. Duit apalagi. :D
 Tapi, di sela - sela kesibukan itu juga. Aku nyempetin nulis meskipun gak langsung di depan laptop. Aku gunain sesuatu yang simple tapi bisa buat jari - jariku berolah raga kayak biasanya. Adalah handphone. Ini aku jugak ngepostingnya lewat hape. Jadi agak sedikit amburadul. Gak masalah lah ya. :)

Semalem aku sempet nulis juga. Sama masih lewat hape. Panjang banget. Tapi ternyata belum ke save dan kabar buruknya paginya hapeku sudah dalam keadaan mati. Kehabisan batrei. :)
Sedih sih, karena sudah ngetik panjang dan memang terlalu panjang. Tiba - tiba hilang. :((
Tapi aku masih inget semalem itu aku nulis tentang apa dan siapa. Yaialah, siapa lagi yang jadi inspirasiku buat nulis kalo bukan laki - laki itu. Aha

Laki - laki itu. Satu - satunya laki - laki setelah ayahku yang menjadi panutan hidup saat ini ( cieee kayak yang udah merit aja! ). Gak ada panggilan spesial antara aku dan dia. Hanya saja dia punya tempat tersendiri di hatiku. Entahlah, apa dia juga menyediakan tempat untukku di hatinya. Hanya dia dan Allah yang tau. :)
Aku gak pernah menyesal sama semua yang sudah menjadi pilihanku dan yang sudah aku jalani. Ini pilihanku dan ini yang harus aku jalani. Meskipun aku sadar, ini berat dan gak gampang. Aku nyobak buat ikhlas dan terima resiko apapun. Karena memang sudah kayak gitu pilihan yang aku pilih.
Aku menyayanginya dan selalu ingin menyayanginya. Apapun resikonya. Tapi Alhamdulillah, aku masih bisa ngontrol kadar “kasih sayang” dan “mencintai” itu. Selebihnya masih kepada sang pemberi nafas. Allah azza wa jallaa.

“Aku tau, suatu saat nanti kamu akan menyayangiku lebih dari diriku menyayangimu”. Entahlah, aku selalu berpikir positif kalo masalahnya tentang kesabaran dan bertahan. Seolah - olah aku mengemis kasih sayangnya. Tapi apa boleh buat. Aku mencintainya, dia juga bilang mencintaiku. Apa lagi yang masih mau disalahkan?

Dulu, kamu ninggalin aku. Kamu menyerah nunggu aku. Tapi, itu bukan caraku. Bukan mencari pelampiasan ke orang di sekitar yang membuatmu bahagia. Meskipun hanya untuk melampiaskan emosimu. Aku disini masih terperangkap di tempatmu. Di 13 Juni dulu itu. Di terminal, sebelum akhirnya kamu bilang kalo kamu sudah punya pacar. Aku mengerti rasanya nunggu sesuatu yang kita harapkan tapi gak kunjung datang. Allah memang selalu adil. Dan ini cukup adil untukku. Mulai saat itu, gilirankulah yang harus nunggu kamu. Kamu memang gak mintak, tapi aku yakin suatu hari nanti kamu akan kembali. Meskipun ceritanya sudah beda. Sampai saat ini aku masih nunggu kamu meskipun kita sudah sama - sama lagi. Aku tetep nungguin kamu yang dulu, yang selalu nanyain kabarku meskipun aku selalu cuekin kamu. Meksa nganter pulang meskipun selalu aku jawab “jangan repot - repot”. Ngajakin keluar dan selalu aku tolak. Jemput dan nganter pulang dari kampus meskipun ekspresiku selalu datar didepanmu. Bolehkah aku bernostalgia dengan mereka semua??? Tapi akan amat sangat berbeda. Kalo kamu dulu masih nunggu. Sekarang kalo kamu sudah kembali seperti waktu itu pasti aku jawab iya, bales cepet - cepet, dan mungkin aku yang ngajakin kamu keluar. Tapi…waktu tidak akan pernah kembali. Aku sadar itu..

Dari pertama ospek. Kamu bilang ke temen - temen, sudah ada kemistri dari pertama meskipun diantara kamu dan aku belum sadar. Kamu tanyak, kenapa cuma kamu yang bisa dapet no. Hapeku waktu itu?? Aku gak punya jawaban dari pertanyaan simple yang kamu berikan. Aku juga gak sadar, kenapa dari sekian banyak anak di kelas. Cuma kamu yang aku sungkani? Terlalu banyak kesamaan meskipun wajahku dan kamu gak identik. Sifat, sikap, (kecuali crewet dan nyebelin). Dari seringnya makek baju dengan warna senada, sampek tanggal lahir. Aku semakin cinta sama angka 13. Kata siapa 13 itu angka sial?? Bagiku, 13 adalah kebahagiaanku, semoga juga menjadi kebahagiaanmu. Aamiin.. Kalo katanya orang, kebetulan itu gak sering. Tapi kita sering banget makek baju yang warnanya sama. :D

Aku bukan wanita istimewa..
Aku belum menjadi istimewa di hatimu. Dan aku tidak memaksa itu. Karena hidupmu kamu yang tentukan. Aku hanya bisa berdoa dan menyemangatimu. Dan akupun bersemangat saat kamu sudah gak lagi ngejar - ngejar aku, nyarik aku, meksa aku. Aku bersemangat karna kata - kata yang seperti ini “Sampai berjumpa di waktu yang tepat jodohku”. Dulu aku berdoa, aku masih ingat saat aku merintih kepada Allah. Curhat kepada Allah. “Kenapa baru sekarang aku merasakan ini ya Allah, kenapa gak waktu dia masih berusaha ingin bersamaku?”. Gak ada yang harus ditangisi, gak ada yang harus disesali. Allah mempunyai rencana lain di balik itu semua. Dan, mungkin inilah rencana Allah. Mengembalikan dia kepadaku, dengan cerita yang berbeda. Giliranku yang harus menunggunya. Agar aku mengerti, bagaimana kamu dulu telah menungguku.

Terimakasih untuk pelajaran hidup ini ya Allah.. :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar